MEMBACA KRITIS
Oleh : Rismauli Pakpahan

1. Latar Belakang
Kesadaran yang tinggi akan perlunya ketrampilan berkomonikasi adalah kebutuhan zaman ini. Komunikasilah yang memungkinkan kebudayaan tercipta. Membaca adalah bagian dari komunikasi. Membaca member manfaat yang besar bagi pembaca. Seorang pembaca tidak hanya dan mempelajari apa yang diketahui orang lain tetapi juga mengembangkan basis informasi tersebut (Ahuja P dan Ahuja G.C., 2010).
Kita membaca untuk belajar. Kita membaca untuk hidup. Kita membaca untuk menghilankan kebutaan dan membangkitkan semangat. Kita membaca untuk mempertimbangkan manfaat dari apa yang kita lakukan atau dari apa yang berani kita lakukan. Kita membaca untuk berbagi rahasia kita yang menyakitkan dengan seseorang yang kita tahu tidak akan menolak kita. Kita membaca jalan berpikir kita menuju kehadiran kebijaksanaan yang besar, penderitaan yang besar atau menuju sudut-sudut hidup yang tidak teratur yang kita takut menjalaninya menurut Frank Jennings.
Membaca adalah sebuah karya cita rasa masyarakat. Orang menulis, pertama-tama, ketika mereka merasa perlu mengkomonikasikan gagasan-gagasannya dalam bentuk yang lebih permanen dari pada bentuk tuturan atau ujaran. Kemudian, secara serempak, mereka merasakan kebutuhan untuk menginterprestasikan simbol-simbol tertulis melalui sebuah proses yang kemudian disebut membaca (Ahuja P dan Ahuja G.C., 2010:13).
Membaca merupakan kegiatan yang sangat menunjang kegiatan menulis. Dengan banyak membaca, kita akan mempunyai banyak informasi dan pengetahuan yang tidak kita dapat dari pengalaman sehari-hari. Dengan banyak membaca, kita juga akan banyak mendapat gagasan yang berguna untuk tulisan kita. Tulisan yang baik memberikan pengetahuan bagi pembacanya. Oleh karena itu, kalau kita ingin menghasilkan tulisan yang baik, kita perlu banyak membaca. Tidak mengherankan bahwa penulis yang baik banyak membaca. Pada makalah ini akan dijelaskan tentang “Membaca Kritis untk Menulis”.
Kemampuan membaca dengan baik adalah salah satu ketrampilan paling berharga nyang dapat dicapai oleh manusia. Dalam banyak situasi, membaca dianggap sebagai saluran komunikasi dunia yang terus meluas yang sangat dibutuhkan. Karena sesungguhnya kita hidup di “dunia yang membaca´dimana kita akan sulit mengelola dan menatanya tanpa membaca.
Untuk menunjang pengembangan daya nalarnya, mahasiswa biasanya dilibatkan dalam praktik menulis ilmiah, yang harus didukung dengan referensi yang memadai. Untuk hal ini, mereka wajib membaca bahan-bahan rujukan secara kritis. Para mahasiswa peserta dilibatkan dalam kegiatan yang mendukung berkembangnya pemahaman tentang membaca kritis, kemudian dilibatkan dalam praktik membaca kritis tulisan/artikel ilmiah, tulisan/artikel popular dan buku ilmiah, serta bahan-bahan yang tersaji dalam internet. Produk dari praktik membaca kritis ini adalah rangkuman bahan yang dibaca dan komentar krisis mahasiswa terhadap gagasan dan konsep dalam bacaan terkait, kutipan-kutipan yang relevan.
Untuk lebih cepat memahami tulisan dalam menilai dan mengartikan apa yang dibacanya diperlukan membaca kritis.
2. Rumusan Masalah
1. Apakah membaca kritis itu?
2. Bagaimana tingkatan membaca kritis?
3. Mengapa membaca kritis itu penting?
3. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah :
1. Untuk mengatahui Apakah membaca kritis itu.
2. Untuk mengetahui tingkatan membaca kritis.
3. Untuk mengetahui mengapa membaca kritis itu penting.

4. PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Membaca Kritis
Menurut Pramila A dan G.C. Ahuja (2010), kritis didefinisikan dalam webster’s new world dictionary of the American language as characterized dengan analis yang cermat. Lebih jauh istilah tersebut adalah suatu usaha penilaian yang dilakukan secara obyektif, seperti menentukan kebenaran dan kesalahannya, kelebihan dan kekurangannya. Apabila diterapkan pada membaca, “ kritis “ adalah diskriminatif atau evaluative sejenis pertimbangan yang diperlukan disini.
Membaca kritis (critical reading) adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluative, serta analitis, dan hanya mencari kesalahan Albert (dikutip Tarigan, 2008:92).
Menurut Tarigan (2008) manfaat apakah yang dapat kita petik apabila kita telah dapat membaca lebih analitis, lebih kritis? 1) pertama-tama haruslah dipahami benar-benar bahwa membaca kritis meliputi penggalian lebih mendalam di bawah permukaan, upaya untuk menemukan bukan hanya kesuluruhan kebenaran mengenai apa yang dikatakan, tetapi juga (dan inilah yang lebih penting pada masa-masa selanjutnya) menemukan alasan-alasan mengapa sang penulis mengatakan apa yang dilakukannya. Apabila seorang pembaca mnemukan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapai juga mengapa hal itu dikatakan dia sudah mengarah yang paham. 2) membaca kritis merupakan modal utama bagi para mahasiswa untuk mencapai kesuksesan dalam studinya. Kebanyakan mahasiswa telah mengalami praktek dalam membaca intensif, walaupun mereka tidak sadar dan mengetahuinya pada saat itu.
Selanjutnya menurut Tarigan (2008: 93-97) pada umumnya membaca kritis (membaca interpretative ataupun membaca kritis) menuntut para pembaca agar : 1) memahami maksud penulis; 2) memanfaatkan kemampuan membaca dan berpikir kritis; 3) memahami organisasi dasar penulis; 4) dapat menilai penyajian penulis/pengarang; 5) dapat menerapkan prinsisp-prinsip kritis pada bacaan sehari-hari; 6) memningkatkan minat pembaca, dan berpikir kritis; 7) mengetahui prinsip-prinsip pemilihan bahan bacaan; 8) membaca majalah atau publikasi-publikasi periodik yang serius.
1. Memahami maksud penulis
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam membaca kritis adalah menentukan serta memahami maksud dan tujuan penulis. Kebanyakan tulisan memenuhi satu (atau lebih) dari keempat tujuan umum wacana (discourse) yaitu : memberitahu (to inform), meyakinkan (to cionvince), mengajak, mendesak, meyakinkan (topersuade) atau menghibur (to intertain). Sekalipun kita jarang menemui suatu pilihan bacaan yang secara jelas dibatasi paa salah satu dari keempat tujuan ini, tetapi salah satu diantaranya biasanya menonjol.
2. Memanfaatkan Kemampuan Membaca dan Berpikir Kritis
Kemampuan membaca dan berpikir seca kritis juga menuntut agar kita sada akan sikap-sikap serta prasangka-prasangka kita sendiri, dan unsure-unsur lain dalam latar belakang pribadi kita yang mungkin memengaruhi kegiatan membaca dan berpikir kita. Misalnya, kalau ayah kita adalah seorang buruh, seorang pedagang atau seorang ahli, mungkin saja mempunyai sikap-sikap tertentu terhadap organisasi buruh atau serikat pekerja yang akan mencagah pembicaraaan kita mengenai pemogokan yang mengancam dengan suatu cara yang obyektif.
Sebagai seorang pembaca yang bertanggung jawab kita hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini dalam membaca :
a) Harus yakin bahwa kita atau menyimak untuk memahami apa yang disajikan sebelum kita mulai mengutarakan pendapat mengenai hal itu. Harus rela dan terbukan menerima pendapat orang lain;
b) Setelah kita yakin bahwa kita telah memberikan suatu pendengaran yang jujur terhdapa penyajian atau uraian orang itu, analislah asumsi-asumsi dan praduga-praduga kita sendiri untuk melihat apakah kita berpikir secara jelas dan obyektif ataukah tidak;
c) Jangan biarkan perasaan-perasaan serta prasangka-prasangka kita menyebakan kita hanya mengingat fakta-fakta dan alasan-alasan serupa itu sebagai penunjang terhadapa pandangan kita sendiri sebelumnya;
d) Jangan biarkan keinginan kita untuk membantah serta menyangkal, mencegah pemahaman kita terhadap penyajian, uraian orang lain;
e) Cobalah melihat logika penyajian itu dari sudut maksud serta asumsi-asumsi penulis itu sendiri, kemudian lihatlah pandangannya berbeda dari pandangan kita dan juga perhatikan secara luas akan hal-hal apa yang kita dapat seiring sejalan dengan pandangan serta keterangan-keterangannya.
3. Memahami Organisasi Dasar Tulisan
Maksud penulis dalam menulis artikel sebagaian besar menentukan sifat dan lingkup pembicaraannya, rangka dasarnya, dan sikap umum serta pendekatannya. Para pembaca yang teliti menanti indikasi-indikasi atau petunjuk-petunjuk mengenai pilihan itu dan bagaimana caranya disajikan. Biasanya, penyajian seseorang penulis dibagai menjadi tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi dan kesimpulan.
4. Menilai Penyajian Pengarang
Selaku pembaca yang kritis, kita harus mempu menilai, mengevaluasi penyajian bahan penulis. Sebagai tambahan terhadap memperhatikan maksudnya dan caranya dia menyususun bahan tersebut, kita harus dapat menentukan apakan dia telah mecakup pokok mesalahnya secara memuaskan, atau tidak. Tegasnya, kita harus membaca dengan bermodalkan pertanyaan-pertanyaan berikut : a) informasi; b) logika; c) bahasa; d) kualifikasi; e) sumber-sumber informasi yang dipergunakan oleh pengarang.
5. Menerapkan Prinsip-prinsip Kritis pda Bacaan Sehari-hari
Warga Negara yang bertanggung jawan dalam suatu Negara demokrasi seperti Negara Republik Indonesia, dihadapkan pada bahan bacaan yang mengalir terus, sumber tempat mereka harus menimba serta memperoleh pendapat-pendapat mereka mengenai masalah-masalah politik, masalah sosial, keagamaan dan moral, serta sejumlah topic lainnya. Sebgai warga Negara yang dewasa dan matang, kita harus belajar membaca bahan-bahan serupa itu dengan suatu taraf perbedaan yang tinggi, dengan suatu pilihan yang tepat.
Bertumpuknya bahan bacaan memperingatkan kita untuk menciptakan prinsip-prinsip yang dapat membimbing kita dalam membaca. Pada umumnya santapan bacaan kita haruslah mencakup hal-hal yang harus dibaca untuk menjaga agar kita dapat mengikuti perkembangan-perkembangan mutakhir.
6. Meningkatkan Minat Membaca
Seorang sarjana pernah mengatakan bahwa orang yang membaca dengan baik adalah orang yang biasanya berpikir baik; dia memiliki suatu dasar pendapat dan suatu batu ujian bagi pertimbangan.
Sebagai pelajar dan mahasiswa yang ingin menjadi anggota masyarakat yang dihormati serta yang bertanggungjawab, anda semua harus mencurahkan perhatian serta usaha pada peningkatan minat baca anda. Suatu sikap ingin tahu yang intelektual, yang bijaksana, ditambah dengan usaha yang konstan untuk menggali bidang-bidang pengetahuan baru, akan menolong anda untuk meningkatkan serta memperluas minat baca.
Untuk meningkatkan minat baca ini, perlu sekali kita berusaha : a) menyidiakan waktu untuk membaca dan b) memilih bahan bacaan yang baik, ditinjau dari norma-norma kekritisan yang mencakup norma-norma estetik, sastra dan moral.
7. Prinsip-prinsip Pemilihan Bahan Bacaan
Uraian-uraian terdahulu akan menolong kita untu menetapkan buku-buku yang ingin kita baca. Akan tetapi, kita juga membutuhkan prinsip-prinsip pembimbing tertentu yang akan membantu kita untuk mengetahui pakah buku yang disarankan/dianjurkan itu bermanfaat dibaca tida menyia-nyiakan waktu dan supaya kemampuan memilih buku-buku dengan bai, dengan pembedaan yang saksama, menuntut pelatihan yang banyak, tetapi ada beberapa prinsip yang dapat menolong mengarahkan bacaab jita pada proses pemanfaatan pengetahuan serupa itu.
Beberapa orang yang tidak pernah bangkit dan berdiri di atas mentalitas buku komik. Mereka tidak pernah mencoba memperluas minat mereka atau menjajahi bidang-bidang, lapangan-lapangan ilmu pengetahuan yang baru. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menyaksikan bahwa orang-orang yang telah matang, telah dewasa mengubah-ubah bacaan mereka untuk mendapatkan aneka ragam kebutuhan dan minat. Pada umumnya mereka mencari buku-buku dan majalah-majalah yang member laporan, menafsirkan, mengilhami, atau memperkaya kehidupan mereka, di samping juga member hiburan. Pilihan-pilihan serupa ini dapat ditemui pada karya-karya tulis, baik pada masa akhir-akhir ini maupun pada buku klasik. Kalau sebuah buku tidak memenuhi salah satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut, maka buku tersebut hampir tidak patut mendapatkan pertimbangan dan waktu serius.
Melalui membaca kita dapat memperoleh manfaat dari informasi yang baru mengenai dunia sekitar kita, mengenai bangsa lain, mengenai prestasi-prestasi dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau tempat-tempat yang jauh. Kalau sebuah buku tidak dapat memperluas pengetahuan menganani dunia kehidupan manusia, buku tersebut tidak pantas mendapat perhatian yang besar. Buku-buku dan artikel-artikel yang bersifat informative acapkali menolong kita menginterprestasikan dan mengevaluasi bukan hnaya apa yang kita baca, tetapi juga apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
8. Membaca Majalah
Sebagian terbesar dari uraian yang diadakan pada “Membaca Kritis” ini dititik beratkan serta dipusatkan pada bacaan buku, tetapi sebenarnya prinsip-prinsip dasar itu dapat diterapkan dengan cara yang sama pada kegiatan kita membaca masajlah yang lebih baik. Ingat kita tidak selamanya menjadi siswa atau mahasiswa, secara formal terus menerus duduk dalam kelas. Sekali meninggalkan sekolah kita akan menjupai bahwa kebanyakan kegiatan membaca akan dilaksanakan terhadap majalah-majalah mutakhir dari pada buku-buku. Oleh sebab itu agaknya ada manfaatnya mengemukakan beberapa pertimbangan terhadap hal-hal yang ada kaitannya dengan membaca secara teliti penerbitan-penerbitan berkala yang serius.
McKillop (dikutip Tarigan, 2008), memperlihatkan secara eksperimental bahwa sifat, kepercayaan, dan bias lebih pengaruh dalam membaca kritis dibanding pemahaman literal. Membaca kritis bukan hanya semata proses kognitif; unsure emosi juga ikut mempengaruhi pertimbangan. Chase (dikutip Tarigan, 2008) menandaskan pembaca kritis juga mengenal kemungkinan pengaruh dari campur tangan emosionalnya.
Sebagian besar pembaca hanya sekedar membaca; mereka tidak memikirkan apa yang mereka baca. Membaca kritis menurut David H. Rassel “ tidak begitu saja eksis dalam ruangan kosong tetapi diduga terkait erat dengan berpikir kritis’, dan kemudian ia mendifinisikan berpikir krisis sebagai sikap senantiasa mempertanyakan segala sesuatunya dan menangguhkan penilaiang, penyidikan logis dan evaluasi dalam batas-batas suatu standar atau consensus.
4.2 Tingkatan Membaca Kritis
Usaha telah dilakukan untuk menggambarkan dan menamai tingkatan-tingkatan membaca kritis. DeBoer (dikutip Ahuja P. dan Ahuja G.C, 2010) menyarankan bahwa tingkatan pertama membaca kritis adalah menentukan relevansi bahan dengan suatu masalah atau topic. Untuk menentukan relevansi itu , seorang pembaca harus memilih dan menolak, harus menilai dan menimbang banyak aspek-aspek isi bacaan. Tingkatan kedua adalah ecaluasi ketepatan fakta-fakta yang diharapkan atau penentuan keandalan sumber-sumber indormasi. Untuk menggali ketepan dan keandalan itu kita perlu membaca beberapa sumber, membandingkan berbagai presentasi dan menguji kelayakan penulis. Tingkatan ketiha adalah menilai keabsahan dan kesahian simpukan pengarang. Pada tingkatan ini relevansi, ketepatan dan keabsahan fakta-fakta dan argument-argumen harus didukung oleh pengetahuan mengenai apa yang telah diabaikan atau yang tekah ditekankan. Kemampuan untuk mengikuti logika sebuah argument atau pengetahuan mengenai bias penulis niscaya sangat membantu.
4.3 Mengapa Membaca Kritis penting
Apakah penting membaca secara kritis? Seseorag yang memiliki kecerdasan sedang-sedang sajapun tidak akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Kita adalah warga Negara demokratis. Negara bergantung pada pemikiran kita, maksudnya pemikiran kritis kita. Bernafas di alam demokrasi, kita seharusnya bangga dengan keberadaaan kita. Kita harus memikul tanggung jawab kepada Negara. Kita harus senantiasa waspada . masyarakat yang maju membutuhkan warga yang siaga, teliti dan waspada. Kita perlu berpikir kritis, hanya pemikir kritislah yang mampu membaca secara kritis.
Akhirnya-akhir ini para orang tua dan pendidik melaporkan bahwa anak-anak tidak mampu membaca dengaan baik. Mereka tidak mampu berpikir. Mereka lebih bergantung pada hafalan, bahkan banyak menghafal dan sedikit berpikir.
Confusius, guru dan sarjana tgerkenal Cina pernah menulis, Belajar tanpa berpikir sia-sia; berpikir tanpa belajar membahayakan. pengotak-kotakan mental kita, Selanjutnya Edgar Dale (dikutip Ahuja P. dan Ahuja G.C, 2010) menulis “ kita adalah korban kekakuan kategori-kategori. Sistem pengotak-kotakan mental kita, yang diisi dengan fakta yang gersang dan terpisah-pisah, menjadi kaku dan tidak fleksibel, tidak luwes. Lebih jauh, pergrakkan dari belajar yang konkret ke yang abstrak menuntut suatu perhatian pada proses mental yang lebih tinggi. Alih-alih hanya sekedar menerima dan mempelajari apa disampaikan buku, siswa harus menganalisis apa yang dimaksudkan penulis, membandingkan dan mempertentangkannya dengan pengalaman yang dialmainya sendiri, meramu, menilai dan menerapkan.”
5. Simpulan dan Saran
5.1 Simpulan
Membaca kritis (critical reading) adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluative, serta analitis, dan hanya mencari kesalahan (Albert (et al) 1961 :1).
Manfaat yang dapat kita petik apabila kita telah dapat membaca lebih analitis, lebih kritis? 1) membaca kritis meliputi penggalian lebih mendalam di bawah permukaan, upaya untuk menemukan bukan hanya kesuluruhan kebenaran mengenai apa yang dikatakan, tetapi juga (dan inilah yang lebih penting pada masa-masa selanjutnya) menemukan alasan-alasan mengapa sang penulis mengatakan apa yang dilakukannya. 2) membaca kritis merupakan modal utama bagi para mahasiswa untuk mencapai kesuksesan dalam studinya. Selanjutnya pada umumnya membaca kritis (membaca interpretative ataupun membaca kritis) menuntut para pembaca agar : 1) memahami maksud penulis; 2) memanfaatkan kemampuan membaca dan berpikir kritis; 3) memahami organisasi dasar penulis; 4) dapat menilai penyajian penulis/pengarang; 5) dapat menerapkan prinsisp-prinsip kritis pada bacaan sehari-hari; 6) memningkatkan minat pembaca, dan berpikir kritis; 7) mengetahui prinsip-prinsip pemilihan bahan bacaan; 8) membaca majalah atau publikasi-publikasi periodik yang serius.
5.2 Saran
Sebagai mahasiswa kita harus membiasakan diri untuk membaca meningkatkan kecintaan kita dengan kegiatan membaca sehingga tanpa disadari kita akan mempu meningkatkan kegiatan membaca kita pada tingkat membaca kritis.

Daftar Pustaka
Ahuja Pramila dan Ahuja G.C. Membaca Secara Efektif dan Efisien. Kiblat Buku Utama. Bandung 2010

Tarigan; Henry Guntur. 2008. Membaca sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Angkasa. Bandung

MENINGKATKAN MINAT MEMBACA

Oleh:

Hayanin Puspitasari*

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Membaca berasal dari kata dasar baca. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca memiliki makna yakni melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Kegiatan membaca merupakan keterampilan berbahasa yang dilakukan seseorang untuk memperoleh pesan dan informasi dari sebuah tulisan. “Membaca yaitu mengambil dan memahami suatu arti dan maknanya yang terkandung pada bahasa yang tertulis” (Mr. Finochiaro, 1973:119)

Membaca menuntut seseorang memiliki suatu kesiapan kecakapan. Hal ini mencakup kedewasaan mental, kosa kata, kemampuan mengikuti urutan ide-ide, dan minat terhadap bahasa. Membaca berperan sangat penting dalam kehidupan.  Dikatakan demikian, seperti kita ketahui perkembangan informasi sangat luar biasa, baik yang disampaikan melalui media cetak maupun elektronik.  Agar kita tidak ketinggalan dan tidak ditinggal oleh informasi yang begitu membanjir, membaca merupakan salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut.  Memang ada cara lain yang lebih canggih, misalnya dengan mengakses internet.

Melalui membaca, informasi yang kita peroleh dapat kita manfaatkan dalam kehidupan ini.  Sebagai contoh, informasi dalam bidang kesehatan, politik, ekonomi, budaya, ilmu sosial, dan sebagainya yang kita peroleh pasti bermanfaat bagi kita.

Membaca terdiri atas berbagai jenis, yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati (membaca intensif dan membaca ekstensif). Setiap jenis mempunyai karakteristik tersendiri dan juga memiliki kelebihan masing-masing, tetapi dalam kegiatan membaca, seseorang terkadang mengalami beberapa kendala, seperti rendahnya motivasi, sulitnya berkonsentrasi, dan gangguan-ganguan lainnya. Kendala tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan minat membaca pada diri seseorang. Meningkatkan minat atau keinginan membaca pada diri seseorang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengalokasikan waktu khusus membaca, membeli bahan bacaan setiap minggu, memanfaatkan waktu menunggu, memiliki list buku popular, belajar membaca efektif, membaca saat istirahat atau sebelum tidur dan berdiskusi di sebuah komunitas membaca. Membaca juga akan mendatangkan manfaat bagi seseorang. Dengan membaca, kita mampu melatih kemampuan berpikir, meningkatkan pemahaman, menambah wawasan, mengasah kemampuan menulis, mendukung kemampuan berbicara, meningkatkan konsentrasi dan sarana refleksi dan pengembangan diri.

  1. Masalah
  2. Apa penyebab rendahnya minat membaca?
  3. Bagaimana cara meningkatkan minat membaca?
  4. Apa manfaat membaca?
  1. Tujuan
  2. Mengetahui penyebab rendahnya minat membaca
  3. Memahami cara meningkatkan minat membaca
  4. Mengetahui manfaat membaca
  1. Manfaat
  2. Mampu mengatasi kendala dalam membaca
  3. Mampu meningkatkan minat membaca
  4. Mampu mengetahui manfaat membaca

PEMBAHASAN

  • Pengertian Membaca

Membaca adalah suatu kegiatan berbahasa untuk memahami lambang-lambang bunyi bahasa yang tertulis baik bersuara ataupun tidak dalam memahami informasi-informasi yang disajikan. “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis “(Tarigan, 1984:7). Pengertian lain dari membaca adalah suatu proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis. Sedangkan Harjasujana (1996:4) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal.  Membaca diartikan sebagai pengucapan kata-kata, mengidentifikasi kata dan mencari arti

Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah sebuah proses dalam memahami lambang-lambang bunyi bahasa untuk mendapatkan informasi dan pesan yang disampaikan penulis melalui tulisannya.

  • Jenis Membaca

Menurut Tarigan (1986:12-13), jenis-jenis membaca terdiri dari membaca nyaring, membaca dalam hati (membaca intensif dan membaca ekstensif) dan membaca telaah bahasa.

  1. Membaca Nyaring

Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat agar pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis.

Ketrampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah :

  1. menggunakan ucapan yang tepat.
  2. menggunakan frase yang tepat.
  3. menggunakan intonasi suara yang wajar.
  4. dalam posisi sikap yang baik.
  5. menguasai tanda-tanda baca.
  6. membaca dengan terang dan jelas.
  7. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif.
  8. membaca dengan tidak terbata-bata.
  9. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya.
  10. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya.
  11. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan.
  12. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
  1. Membaca Dalam Hati

Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya.

Keterampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain sebagai berikut:

  1. membaca tanpa bersuara, tanpa bibir bergerak, tanpa ada desis apapun,
  2. membaca tanpa ada gerakan-gerakan kepala,
  3. membaca lebih cepat dibandingkan dengan membaca nyaring,
  4. tanpa menggunakan jari atau alat lain sebagai penunjuk,
  5. mengerti dan memahami bahan bacaan,
  6. dituntut kecepatan mata dalam membaca,
  7. membaca dengan pemahaman yang baik,
  8. dapat menyesuaikan kecepatan dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan.

Secara garis besar, membaca dalam hati dapat dibedakan menjadi dua (I) membaca ekstensif dan (II) membaca intensif.

  1. Membaca Ekstensif

Membaca ekstensif adalah membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Membaca ekstensif adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara tidak begitu detail. Kegiatan membaca ekstensif ditujukan untuk mendapatkan informasi yang bersifat pokok-pokok penting dan bukan hal yang sifatnya terperinci. Berdasarkan informasi pokok tersebut, kita sudah dapat melihat atau menarik kesimpulan mengenai pokok bahasan atau masalah utama yang dibicarakan. Membaca ekstensif dapat digunakan ketika membaca beberapa teks yang memiliki masalah utama sama. Kita dapat menarik kesimpulan mengenai teks yang memiliki masalah utama yang sama, meskipun pembahasan detailnya berbeda. Membaca ekstensif meliputi :

  1. Membaca Survai (Survey Reading)

Membaca survai adalah kegiatan membaca untuk mengetahui secara sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih mendalam. Kegiatan membaca survai merupakan pendahuluan dalam membaca ekstensif.

Yang dilakukan seseorang ketika membaca survai adalah sebagai berikut :

  1. memeriksa judul bacaan/buku, kata pengantar, daftar isi dan malihat abstrak(jika ada),
  2. memeriksa bagian terahkir dari isi (kesimpulan) jika ada,
  3. memeriksa indeks dan apendiks(jika ada).
  1. Membaca Sekilas

Membaca sekilas atau membaca cepat adalah kegiatan membaca dengan mengandalakan kecepatan gerak mata dalam melihat dan memperhatikan bahan tertulis yang dibacanya dengan tujuan untuk mendapatkan informasi secara cepat.

Metode yang digunakan dalam melatihkan membaca cepat adalah :

  1. metode kosakata; metode yang berusaha untuk menambah kosakata.
  2. Metode motivasi; metode yang berusaha memotivasi pembaca(pemula) yang mengalami hambatan.
  3. Metode gerak mata; metode yang mengembangkan kecepatan membaca dengan menigkatkan kecepatan gerak mata.
  1. Membaca Dangkal (Superficial Reading)

Membaca dangkal pada hakikatnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca jenis ini biasanya dilakukan seseorang membaca demi kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan kesenangan, kegembiraan sebagai pengisi waktu senggang.

  1. Membaca Intensif

Membaca intensif atau intensive reading adalah membaca dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya kita kuasai. Membaca intensif adalah teknik membaca yan dapat diterapkan dalam upaya mencari informasi yang bersifat detail. Membaca intensif juga dapat diterapkan untuk mencari informasi sebagai bahan diskusi. Membaca intensif, disebut juga membaca secara cermat. Membaca dengan cermat akan memperoleh sebuah pokok persoalan atau perihal menarik dari suatu teks bacaan untuk dijadikan bahan diskusi. Yang termasuk dalam membaca intensif adalah :

  1. Membaca Teliti

Membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka sering kali seseorang perlu membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.

  1. Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman (reading for understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami tentang standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standards), resensi kritis (critical review), dan pola-pola fiksi (patterns of fiction).

  1. Membaca Kritis

Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijakasana, mendalam, evaluatif, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antar baris, maupun makna balik baris.

  1. Membaca Ide

Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.

  1. Membaca Kreatif

Membaca kreatif adalah kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menagkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.

  1. Membaca Telaah Bahasa
  2. Membaca Bahasa (Foreign Language Reading)
    Tujuan utama membaca bahasa adalah memperbesar daya kata (increasing word power) dan mengembangkan kosakata (developing vocabulary)
  3. Membaca Sastra (Literary Reading)
    Dalam membaca sastra perhatian pembaca harus dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Apabila seseorang dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra.
  • Kendala Dalam Membaca
  1. Rendahnya Motivasi

Sering kali saat  membaca, kita tidak memiliki motivasi yang kuat atas bahan bacaan. Motivasi yang kurang ini secara mental akan membuat kita membaca dengan lambat dan otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami apa yang kita baca.

  1. Sulit berkonsentrasi

Ketika kita  tidak berkonsentrasi,  informasi yang diterima oleh mata yang diteruskan ke otak tidak mendapat perhatian yang cukup sehingga kita kehilangan pemahaman atas bahan bacaan dan harus mengulangnya berkali-kali. Pengulangan ini disebut sebagai regresi.

  1. Kebiasaan Buruk dalam Membaca
  2. Vokalisasi ( Membaca dengan bersuara)

Yakni mengucapkan kata demi kata secara lengkap, bisa dengan bersuara lantang, ataupun dengan suara samar/tidak jelas (menggumam).

  1. Gerakan Bibir

Menggerakkan bibir pada saat membaca, walaupun tanpa bersuara, juga akan membuat kecepatan baca menjadi melambat 4 kali dibandingkan jika membaca dengan diam/tanpa bersuara.

  1. Gerakan Kepala

Saat masa kanak-kanak, jangkauan penglihatan kita tidak memungkinkan menguasai penampang bacaan (dari kiri hingga kanan). Karena itulah kita menggerakkan kepala dari kiri dan kanan untuk membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Saat dewasa, jangkauan penglihatan kita telah mampu menguasai penampang tersebut secara optimal, sehingga seharusnya mata saja yang bergerak.

  1. Menunjuk Dengan Jari

Kebiasaan ini timbul karena saat masih belajar membaca, kita selalu menunjuk kata demi kata dengan jari, agar tak ada kata yang terlewati. Kebiasaan ini sering dipertahankan hingga dewasa, padahal sangat menghambat kecepatan baca, Karena gerakan tangan lebih lambat dari pada gerakan mata.

  1. Regresi

Dalam membaca, mata bergerak dari kiri ke kanan untuk menangkap kata-kata yang terletak berikutnya. Namun sering mata bergerak kembali ke sbelakang untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan inilah yang disebut dengan regresi. Hal ini kebanyakan dilakukan karena merasa kurang  yakin dalam memahami kata atau kalimat sebelumnya.

  1. Subvokalisasi

Yakni melafalkan kata-kata  dalam batin/pikiran. Kebiasaan ini juga menghambat karena konsentrasi akan lebih terfokus pada ‘bagaimana melafalkan dengan benar’, dan bukannya ‘memahami ide’ yang terkandung dalam kata-kata tersebut.

  • Meningkatkan Minat Membaca

Ada tujuh cara dalam meningkatkan minat membaca, yaitu:

  1. Mengalokasikan Waktu Khusus untuk Membaca

Kegiatan membaca membutuhkan waktu dan kondisi yang tepat. Membaca di waktu sibuk dan saat melakukan aktivitas lain akan menimnulkan hambatan bagi pembaca sehingga pembaca sulit menangkap isi bacaan secara tepat.

  1. Membeli Bahan Bacaan Setiap Minggu

Dengan membeli bahan bacaan setiap minggunya, maka semangat dan motivasi membaca tidak akan putus.

  1. Manfaatkan Waktu Menunggu

Sebagian orang, ketika menunggu baik antre atau menunggu lainnya dapat memanfaatkan waktu menunggu tersebut dengan membaca berbagai literature yang ada di sekitar. Terlebih di zaman sekarang kecanggihan teknologi mampu membuat kita membaca berbagai bahan bacaan pada media handphone genggam.

  1. Memiliki List Buku Populer atau Rekomendasi

Setiap orang tentunya memiliki kegemaran terhadap bahan bacaan yang berbeda. Kegemaran membaca terhadap suatu bahan bacaan hendaknya bisa menjadi motivasi bagi individu tersebut. Dengan mmebuat list buku popular, kegiatan membaca akan lebih terarah dan menarik.

  1. Belajar Membaca Efektif

Membaca efektif membuat seseorang dapat lebih kritis menanggapi isi bacaan. Dengan membaca kritis, seseorang akan lebih giat lagi mencari bahan bacaan yang menjadi pembanding terhadap bahan bacaan sebelumnya.

  1. Membaca Saat Istirahat atau Sebelum Tidur

Kegiatan membaca saat istirahat atau sebelum tidur akan lebih tepat. Sebab di waktu tersebut, kondisi tubuh dan otak sedang rileks dan sedikit kemungkinan mengalami kendala dalam membaca.

  1. Berdiskusi dan Bergabung di Komunitas

Lingkungan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter seseorang. Berada di tengah lingkungan orang-orang yang memiliki hobi yang sama akan menciptakan suasana yang nyaman. Berdiskusi dan bergabung di komunitas membaca akan memudahkan orang bertukar pikiran dan meningkatkan minat membaca. Selain itu, tidak menutup kemungkinan akan tercipta pula bahan bacan baru yang nantinya akan bermanfaat bagi pembaca lain.

  • Manfaat Membaca

Membaca adalah satu aktivitas yang memiliki segudang manfaat. Tujuh manfaat dalam membaca adalah:

  1. Melatih kemampuan berpikir

Otak ibarat sebuah pedang, semakin diasah akan semakin tajam. Kebalikannya jika tidak diasah, juga akan tumpul. Menurut para ahli, keuntungan dari membaca buku dapat memberikan dampak yang menyenangkan bagi otak kita. Membaca juga membantu meningkatkan keahlian kognitif dan meningkatkan perbendaharaan kosakata.

  1. Meningkatkan Pemahaman

Contoh nyata dari manfaat ini banyak dirasakan oleh siswa maupun mahasiswa. Di mana membaca dapat meningkatkan pemahaman dan memori, yang semula tidak mereka mengerti menjadi lebih jelas setalah membaca.

  1. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan

Dengan memiliki banyak wawasan dan ilmu pengetahuan, kita akan lebih percaya diri dalam menatap dunia. Mampu menyesuaikan diri dalam berbagai pergaulan dan tetap bisa servive dalam menghadapi gejolak zaman.

  1. Mengasah kemampuan menulis

Selain menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, membaca juga bisa mengasah kemampuan menulis Anda. Selain karena wawasan Anda untuk bahan menulis semakin luas, Anda juga bisa mempelajari gaya-gaya menulis orang lain dengan membaca tulisannya. Lewat membaca Anda bisa mendapatkan kekayaan ide yang melimpah untuk menulis.

  1. Mendukung kemampuan berbicara di depan umum

Membaca adalah aktivitas yang akan membuka cakrawala dan pengatahuan anda terhadap dunia. Terbatasnya jangkauan diri kita terhadap peristiwa-peristiwa di dunia, hanya bisa dijangkau dengan membaca. Selain mendapatkan informasi tentang berbagai peristiwa, membaca juga mampu meningkatkan pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal, karena membaca akan memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata. Meningkatnya pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal akan sangat mendukung dalam meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum.

  1. Meningkatkan Konsentrasi

Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.

  1. Sarana Refleksi dan Pengembangan Diri

Kita dapat mengetahui pemikiran seorang pengusaha atau seorang trainer tanpa kita harus menjadi pengusaha atau trainer. Artinya kita bisa mempelajari bagaimana cara orang lain dalam mengembangkan diri.

SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan

Membaca adalah sebuah keterampilan berbahasa yang tidak akan terlepas dari diri seseorang. Dengan membaca, kita mampu memahami isi atau makna yang terdapat pada sebuah bahasa. Terdapat beberapa jenis membaca, yakni membaca nyaring, membaca dalam hati (membaca intensif dan ekstensif) dan membaca telaah bahasa.

Dalam kegiatan membaca terdapat beberapa kendala. Kendala tersebut adalah vokalisasi ( Membaca dengan bersuara), gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari, regresi dan subvokalisasi.

Kegiatan membaca perlu ditingkatkan agar mampu memotivasi diri. Beberapa cara untuk meningkatkan minat membaca adalah mengalokasikan waktu khusus untuk membaca, membeli bahan bacaan setiap minggu, memanfaatkan waktu menunggu, memiliki list buku popular, belajar membaca efektif, membaca saat istirahat atau sebelum tidur dan berdiskusi dengan sebuah komunitas.

Dengan membaca berarti seseorang telah mendapatkan berbagai manfaat, yakni melatih kemampuan berpikir, meningkatkan kemampuan berpikir, meningkatkan pemahaman, menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, mengasah kemampuan berpikir, mendukung kemampuan berbicara di depan umum, meningkatkan konsentrasi, dan sarana refleksi dan pengembangan diri.

 

 

  1. Saran

Demikianlah materi yang dapat penulis sampaikan pada makalah ini. Penulis menyadari banyaknya kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan serta rujukan atau referensi yang mendukung. Untuk itu penulis mengaharapkan kritik dan saran yang membangun bagi makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada semua pembaca

DAFTAR PUSTAKA

https://www.facebook.com/A.Hayatunnufus/posts/620816754600362

https://supersuga.wordpress.com/2009/08/04/hambatan-membaca-cara-mengatasinya/

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Angkasa Bandung.

JENIS-JENIS MEMBACA

 

KATA PENGANTAR

Kita harus menyadari bahwa membaca mempunyai peran yang amat penting dalam kehidupan manusia sepanjang masa.Mengapa?Pertama, membaca itu merupakan suatu alat komunikasi yang sangat diperlukan dalam masyarakat berbudaya. Kedua, bahan bacaan yang dihasilkan dalam setiap kurun zaman sejarah sebagian besar dipengaruhi oleh latar belakang proses tempat berkembangnya itu. Ketiga, sepanjang masa yang terekam, membaca telah membutuhkan suatu kutub yang amat berbeda.Di satu pihak, membaca itu telah bertindak sebagai suatu daya pemersatu yang ampuh, yang cenderung mempersatukan kelompok-kelompok proses dengan memberikan pengalaman-pengalaman umum yang seolah-olah dialami sendiri dengan menanamkan sikap-sikap, ide-ide, minat-minat dan aspirasi-aspirasi umum.Membaca telah membuahkan kutub-kutub baik yang konstruktif maupun yang destruktif.Karena itulah masalah yang kita hadapi kini adalah menentukan cara-cara agar membaca itu dapat dengan baik. Dalam mencari kebutuhan dasar demi pembangunan (bangsa kita), kita tonjolkan dan hargai kesimpulan(seorang professor) tokoh dari Heindelbergh mengenai tugasnya: belajar membaca dan mengajar bahasa.  Calon guru dan guru harus belajar membaca dan mengajar membaca intensif.Ini mutlak tuntutan profesi mereka. Mereka harus belajar membaca untuk menerapkan sendiri ilmu pengetahuan mereka sendiri, dan mereka harus mengajar untuk menerapkan ilmu pengetahuan mereka pada para siswa mereka harapan nusa dan bangsa masa depan.

Taraf minat membaca juga akan mempengaruhi keterampilan membaca seseorang yang akan belajar tahapan membaca. Supaya tidak agak berlebihan mahasiswa kita harus turut pula menentukan taraf  kemajuan masa depan bangsa kita. Hal itu perlu dicamkan benar-benar dalam hati  Membaca juga tidak lepas dari keterampilan membaca. Keterampilan membaca sangat berhubungan antara berbicara dan membaca, dan hubungan antara ekspresi lisan dan ekspresi Tulis. Membaca itu adalah suatu keterampilan  yang didalamnya itu ada terdapat aspek-aspek membaca. Membaca juga harus mempuyai tahapan-tahapan perkembangan untuk melakukan suatu tekhnik membaca.Dalam pembahasan ini akan membahas Keterampilan membaca. Yang di dalam keterampilan membaca itu banyak terdapat  bagian-bagian tahap membaca. Keterampilan yang ditulis adalah keterampilan membaca intensif.

 

1. Latar Belakang

Membaca penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca.Membaca merupakan tonggak belajar yang akan berlangsung seumur hidup. Karena itu, boleh jadi keterampilan membaca adalah kunci sukses  dalam pendidikan dan kehidupan yang lebih luas. Kemampuan membaca tidak muncul dengan sendirinya pada diri kita.Kemampuan itu dibentuk melaui latihan. Dibutuhkan cara yang tepat untuk kegiatan belajar membaca. Diperlukan stimulasi yang tepat agar mampu menangkap pesan-pesan atau  tujuan dari membaca itu sendiri.

Kita harus menyadari bahwa membaca mempunyai peran yang amat penting dalam kehidupan manusia sepanjang masa.Mengapa?Pertama, membaca itu merupakan suatu alat komunikasi yang sangat diperlukan dalam masyarakat berbudaya. Kedua, bahan bacaan yang dihasilkan dalam setiap kurun zaman sejarah sebagian besar dipengaruhi oleh latar belakang proses tempat berkembangnya itu. Ketiga, sepanjang masa yang terekam, membaca telah membutuhkan suatu kutub yang amat berbeda.Di satu pihak, membaca itu telah bertindak sebagai suatu daya pemersatu yang ampuh, yang cenderung mempersatukan kelompok-kelompok proses dengan memberikan pengalaman-pengalaman umum yang seolah-olah dialami sendiri dengan menanamkan sikap-sikap, ide-ide, minat-minat dan aspirasi-aspirasi umum.Membaca telah membuahkan kutub-kutub baik yang konstruktif maupun yang destruktif.Karena itulah masalah yang kita hadapi kini adalah menentukan cara-cara agar membaca itu dapat dengan baik. Dalam mencari kebutuhan dasar demi pembangunan (bangsa kita), kita tonjolkan dan hargai kesimpulan(seorang professor) tokoh dari Heindelbergh mengenai tugasnya: belajar membaca dan mengajar bahasa.  Calon guru dan guru harus belajar membaca dan mengajar membaca intensif.Ini mutlak tuntutan profesi mereka. Mereka harus belajar membaca untuk menerapkan sendiri ilmu pengetahuan mereka sendiri, dan mereka harus mengajar untuk menerapkan ilmu pengetahuan mereka pada para siswa mereka harapan nusa dan bangsa masa depan.

Taraf minat membaca juga akan mempengaruhi keterampilan membaca seseorang yang akan belajar tahapan membaca. Supaya tidak agak berlebihan mahasiswa kita harus turut pula menentukan taraf  kemajuan masa depan bangsa kita. Hal itu perlu dicamkan benar-benar dalam hati  Membaca juga tidak lepas dari keterampilan membaca. Keterampilan membaca sangat berhubungan antara berbicara dan membaca, dan hubungan antara ekspresi lisan dan ekspresi Tulis. Membaca itu adalah suatu keterampilan  yang didalamnya itu ada terdapat aspek-aspek membaca. Membaca juga harus mempuyai tahapan-tahapan perkembangan untuk melakukan suatu tekhnik membaca.Dalam pembahasan ini akan membahas Keterampilan membaca. Yang di dalam keterampilan membaca itu banyak terdapat  bagian-bagian tahap membaca. Keterampilan yang ditulis adalah keterampilan membaca intensif.

 

1. Rumusan masalah.

1. Pengertian membaca dan membaca intensif2.

2. Apa jenis- jenis membaca intensif?

3. Apa tujuan dari membaca telaah isi?

4.Apa pengertian dari membaca telaah bahasa?

 

2. Tujuan

1 .Untuk mengetahui pengertian membaca dan membaca intensif.

2. Untuk mengetahui tujuan membaca telaah isi.

3. Untuk mengetahui tujuan dari membaca telaah isi.

4. Untuk mengetahui pengertian dari membaca telaah bahasa.

 

3. Manfaat

1.Sebagai pengetahuan tentang pemahaman mengenai jenis-jenis membaca intensif.

2.Sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dalam meningkatkan hasil belajar dengan membiasakan membaca.

3.Sebagai bahan pertimbangan guru/dosen dalam menggunakan atau memilih strategi pembelajaran yang tepat.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Membaca

Berikut ini pengertian membaca menurut beberapa ahli :

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang     tertulis (dengan melisankan maupun hanya dalam hati).
  1. Hodgson (1960: 43-44), membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
  1. Finochiaro dan Bonomo (1973: 119), membaca adalah memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahasa tertulis.
  1. Lado (1976: 132), membaca adalah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulisnya.
  1. Gorys Keraf (1996: 24), membaca adalah suatu proses yang kompleks meliputi kegiatan yang bersifat fisik dan mental. Membaca juga dapat diartikan sebagai proses pemberian makna simbol-simbol visual.

 

  1. Fredick Mc Donald (dalam Burns, 1996: 8), membaca adalah merupakan rangkaian yang respon yang kompleks, di antaranya mencakup respon kognitif, sikap dan manipulatif. Membaca tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sub keterampilan, yang meliputi sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Menurutnya, aktivitas membaca dapat terjadi jika beberapa sub keterampilan tersebut dilakukan secara bersam-sama dalam suatu keseluruhan yang terpadu.
  1. Kolker (1983: 3), membaca adalah suatu proses komunikasi antara pembaca dan penulis dengan bahasa tulis. Hakikat membaca ini menurutnya ada tiga hal, yakni afektif, kognitif, dan bahasa.Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pemikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa anak.
  1. Tampubalon (1987: 6), mengatakan karena bahasa tulisan mengandung ide-ide atau pikiran-pikiran, maka dalam memahami bahasa tulisan dengan membaca, proses-proses kognitif (penalaran), terutama yang bekerja. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa membaca adalah cara untuk membina daya nalar.
  1. Farris (1993: 304), membaca adalah pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai pengetahuan atau  pengalaman yang telah dimiliki sebelumya dengan apa yang terdapat dalam bacaan.

1. Jenis-Jenis Membaca intensif

A.Membaca Telaah Isi

Membaca telaah isi dapat kita bagi atas:

1.Membaca teliti

Membaca teliti dapat dikatakan sebagai kegiatan membaca secara seksama yang bertujuan untuk memahami secara detail gagasan-gagasan yang terdapat dalam teks bacaan tersebut atau untuk melihat organisasi penulisan atau pendekatan yang digunakan oleh si penulis, membaca teliti pentingnya sama dengan membaca sekilas. (Tarigan, 2008: 40).

Membaca teliti memerlukan keterampilan, antara lain :

1) Survei yang cepat untuk memperhatikan/melihat organisasi dan pendekatan umum

2) Membaca secara seksama dan membaca ulang paragraph-paragraf untuk menemukan kalimat judul dan perincian-perincian penting

3) Menemukan hubungan setiap paragraph dengan keseluruhan tulisan atau artikel.

2. Membaca pemahaman

Menurut Sudarso (2001: 58) pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan pembaca untuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian.Supaya pembaca dapat mengerti hal itu, pembaca harus menguasai perbendaharaan kata dan akrab dengan struktur dasar dalam penulisan (kalimat, paragraf, dan tata bahasa).

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membaca, yaitu:

  1. Menentukan tujuan membaca
  2. Preview artinya membaca selayang pandang

3 .Membaca secara keseluruhan isi bacaan dengan cermat sehingga kita dapat menemukan ide pokok yang tertuang dalam setiap paragrafnya

  1. Mengemukakan kembali isi bacaan dengan menggunakan kalimat dan kata-kata sendiri (Suyatmi, 2000:45)

Kegiatan membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam serta pemahaman tentang apa yang dibaca. Membaca pemahaman didefinisikan sebagai salah satu macam membaca yang bertujuan memahami isi bacaan (Sujanto dalam Nurhadi, 1987:222).

Tujuan membaca pemahaman adalah untuk memperoleh sukses dalam pemahaman penuh terhadap argumen-argumen yang logis, urutan-urutan etoris atau pola-pola teks, pola-pola simbolisnya, nada-nada tambahan yang bersifat emosional dan juga sarana-sarana linguistik yang dipergunakan untuk mencapai tujuan (H.G. Tarigan, 1986:36).

Selain tujuan, ada pula prinsip-prinsip membaca pemahaman menurut McLaughlin dan Allen dalam Farida Rahim, mengemukakan sebagai berikut:

  1. Pemahaman merupakan proses konstruktivis sosial.
  2. Keseimbangan kemahiraksaraan adalah kerangka kerja kurikulum yang membantu perkembangan pemahaman.
  3. Guru membaca yang profesional (unggul) mempengaruhi belajar siswa.
  4. Pembaca yang baik memegang peranan yang strategis dan berperan aktif dalam proses membaca.
  5. Membaca hendaknya terjadi dalam konteks yang bermakna.
  6. Siswa menemukan manfaat membaca yang berasal dari berbagai teks pada berbagai tingkatan kelas.
  7. Perkembangan kosakata dan pembelajaran mempengaruhi pemahaman membaca.
  8. Pengikutsertaan adalah suatu faktor kunci pada proses pemahaman.
  9. Strategi dan keterampilan membaca bisa diajarkan.
  10. Asesmen yang dinamis menginformasikan pembelajaran membaca pemahaman (McLaughlin dan Allen dalam Farida Rahim, 2008:3-4)
  11. 3. Membaca kritis

Soedarsono (1994) mengatakan bahwa membaca kritis (critical reading)adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya.  Pembaca tidak sekedar menyerap apa yang ada, tetapi ia bersama-sama penulis berpikir tentang masalah yang dibahas. Membaca secara kritis berarti  kita harus mampu membaca secara analisis dengan melakukan penilaian. Dalam membaca harus ada interaksi  penulis dengan pembaca yang saling mempengaruhi sehingga terbentuk pengertian baru.

  1. a) Tujuan Membaca Kritis
  2. Memahami tujuan penulis atau pengarang.
  3. Memanfaatkan kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan berpikir kritis.
  4. Memahami organisasi tulisan atau bacaan.
  5. Memberikan penilaian terhadap penyajian penulis atau pengarang.
  6. Menerapkan prinsip-prinsip kritis terhadap bacaan
  1. b) Aspek-Aspek dalam Membaca Kritis
  2. Kemampuan mengingat dan mengenali bahan bacaan.
  3. Kemampuan memahami atau menginterpretasi makna tersirat.
  4. Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep.
  5. Kemampuan menganalisis suatu bacaan.
  6. Kemampuan menilai isi bacaan.
  7. c) Metode dalam Membaca Kritis Metode SQ3R
  • Survey (menyurvey buku).
  • Question (mengajukan pertanyaan).
  • Read (membaca secara menyeluruh).
  • Recite/Recall (menjawab pertanyaan).
  • Review(mengulang/menelusuri isi).

Syarat Pokok Dalam Membaca Kritis Ada beberapa persyaratan pokok yang perlu dipenuhi untuk dapat melakukan kegiatan membaca kritis, (cf. Nurhadi, 1988; Harjasujana dkk.,1988), yaitu :

  1. Pengetahuan
  2. Sikap dan Penilaian
  3. Penerapan Metode ilmiah

d) Ciri Pembaca Kritis:

  1. Kegiatan membaca yang dilakukan tidak berhenti sampai pada saat ia selesai membaca buku.
  2. Ia mampu menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari- hari.
  3. Muncul perubahan sikap serta tingkah laku setelah proses membaca dilakukan.
  4. Hasil membaca akan berlaku dan diingat sepanjang masa.
  5. Mampu menilai secara kritis dan kreatif bahan-bahan bacaannya.
  6. Mampu memilih atau menentukan bahan bacaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan atau minatnya.
  7. Mampu memecahkan masalah kehidupan sehari-hari yang dihadapi dengan menggunakan bacaan sebagai pegangan.
  8. e) Hal yang Harus diperhatikan dalam Membaca Kritis
  9. Pilihlah waktu yang sesuai untuk membaca.
  10. Pilihlah suasana yang sesuai untuk membaca.
  11. Perhatikan posisi membaca.
  12. Siapkan alat-alat pendukung dalam membaca.
  13. Lakukan survei isi buku.
  14. Membuat Pertanyaan.
  15. Membaca teliti.
  16. Lakukan evaluasi.
  17. f) Ragam Membaca Kritis
  18. Membaca cepat atau sekilas untuk membaca topik.
  19. Membaca cepat untuk informasi khusus.
  20. Membaca teliti untuk informasi rinci.
  21. Membaca kritis tulisan atau artikel ilmiah.
  22. Menggali tesis atau pernyataan masalah.
  23. Meringkas butir-butir penting setiap artikel.
  24. Memahami konsep-konsep penting ( pandangan ahli, hasil penelitian,dan teori).
  25. Menentukan bagian yang akan dikutip.
  26. Menentukan implikasi dari bagian/sumber yang di kutip.
  27. Menentukan posisi penulis sebagai pengutip.
  28. g) Penerapan Membaca Kritis dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Membaca surat kabar/koran
  • Membaca majalah
  • Membaca buku pelajaran
  • Membaca tulisan karya ilmiah
  • Membaca kritis bahan-bahan yang tersaji dalam internet
  • Dan membaca buku/tulisan yang bersifat non fiksi
  1. Membaca ide

Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca yang bertujuan untuk mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan. Menurut Tarigan (1986:56) membaca idemerupakan kegitan membaca yang bertujuan untuk mencari jawaban atau pertanyaan berikut dari suatu bacaan:

(a) mengapa hal itu merupakan judul atau topik yang baik;

(b) masalah apa saja yang dikupas atau dibentangkan dalam bacaan tersebut;

(c) hal-hal apa yang dipelajari dan yang dilakukan oleh sang tokoh.

  1. Membaca Telaah Bahasa

Membaca telaah bahasa mencakup pula :

  1. Membaca bahasa (asing) atau (foreign) language reading

Menurut Tarigan, Tujuan utama membaca bahasa adalah memperbesar daya kata (increasing word power) yang meliputi :

1.Ragam-ragam bahasa

2.Mempelajari makna kata dari konteks

3.Bagian-bagian kata

4.Penggunaan kamus

5.Idiom

6.Sinonim dan antonym

7.Derivasi

dan mengembangkan kosakata (developing vocabulary).

  1. Membaca sastra (literary reading)

Dalam membaca sastra perhatian pembaca harus dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra.Apabila seseorang dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra. (tarigan 1984:73).

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN dan SARAN

1. Simpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis membaca intensif dapat diklasifiasikan menjadi beberapa. Membaca intensif merupakan suatu cara yang paling mudah untuk memahami suatu bacaan yang kosa katanya tidak lebih dari 500 kata. Banyak manfat dari membaca intensif, sehingga para peserta didik dapat dengan cepat mencari informasi dengan cepat tanpa harus memakan waktu yang sangat lama.

2. Saran

Sekian informasi yang dapt penulis jelaskan. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis  sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tarigan H. G. 1979. Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa.Bandung : Percetakan Angkasa.

Farida, Rahim. 2008. Pembelajaran Membaca Pemahaman. Jakarta : Rhineka Cipta.

Nurhadi. 1987. Kefiatan Membaca Pemahaman. Bandung : Pustaka.

Suyatmi. 2000.Keterampilan Membaca Intensif. Jakarta : Airlangga.

Sudarso. 2001. Pemahaman atau Kompherensi Membaca. Bandung : Rineka Cipta.

 

 

JENIS-JENIS MEMBACA

 

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah menulis karya ilmiah

 

 

Dosen Pengampu

Edi Suryadi, M.Pd.

 

 

Oleh :

Rupiansyah

1342110002

 

 

Progam Studi Bahasa dan Sastra Indonesia

 

 

 

 

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Tridinanti Palembang

Tahun 2015

 

 

PENDIDDIKAN WIRASWSTA UNTUK MENGATASI PENGANGGURAN dan KEMISKINAN

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan rasa puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat serta karunia-Nya dalam proses pembuatan makalah ini. Adapun maksud penulisan makalah ini adalah bertujuan untuk sekadar memberikan informasi kepada pembaca, tentang perlunya pendidikan kewiraswastaan dalam rangka untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Penulisan makalah ini ditujukan khususnya bagi para pendidik dan juga peserta didik pada umumnya, untuk mengatasi permasalahan yang timbul dimasyarakat khususnya masalah pengangguran serta kemiskinan.
Makalah ini mengajak serta memotivasi para peserta didik untuk dapat meningkatkan keterampilan kewiraswastaan yang diperolehnya melalui proses pembelajaran disekolah ataupun dikampus. Dengan ketermpilan tersebut peserta didik menjadi lebih siap untuk menghadapi persaingan di dunia luar setelah mereka menyelesaikan studinya.
Segala saran dan kritik dari pembaca yang budiman, akan disambut dengan senang hati disertai ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.

 

 

 

Pendidikan Wiraswasta untuk Mengurangi Pengangguran dan Kemiskinan
Oleh :
Dicky Lazaroeddin*

1. Latar Belakang
Suatu fakta dalam masyarakat menunjukan bahwa lapangan kerja semakin sempit sedang tenaga kerja tamatan pendidikdan formal dari berbagai jenjang pendididkan semakin melimpah dan bejubel memperebutkan tempat di lapangan kerja, baik sebagai pegawai negeri sipil, pegawai swasta, buruh musiman, buruh harian, dan lain sebagainya.
Perebutan tempat sebagai pegawai negeri sipil juga tampak sebagai warisan kolonial, sebagai dambaan untuk menjadi priayi terhormat dimata masyarakat, meskipun dewasa ini penghasilan PNS relatif rendah dibandingkan dengan pegawai bank, BUMN, Pertamina, perusahaan asing, dan sebagianya.
Permasalahan pokoknya adalah, bagaimana mengubah pola pikir masyarakat dari mental pencari kerja menjadi pencipta kerja. Sesungguhnya, dari pengalaman sejarah dapat diketahui bahwa mental pencari kerja ini pun termasuk strategi kolonial belanda untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa pemohon kerja yang selanjutnya menjadi bangsa yang senantiasa hidup dalam ketergantungan terhadap sang penjajah. Selanjutnya para priayi juga dilarang melakukan kerja sambilan ( wiraswasta ) diluar tugas pokoknya, termasuk istri dan keluarganya, dengan dalih bahwa perbuatan tersebut merendahan citra pegawai negeri yang sudah digaji cukup. Tetapi dibalik larangan tersebut sesungguhnya tersembunyi kekhawatiran penjajah, bila bangsa Indonesia memiliki sikap mental wirasawasta, mereka akan tidak mudah untuk diperintah dan dijajah. Sebab orang yang memiliki sikap mental wiraswasta, berjiwa berani dan jauh dari sikap ketergantungan serta mengharap uluran belas kasihan pihak lain.
Untuk mengatasi semakin banyaknya penganggur yang belum mendapatkan pekerjaan, perlu semakin dini memberikan pendidikan wiraswasta serta bekal-bekal keterampilan kepada peserta didik, agar bila mereka tidak mampu melanjutkan studi atau belum menemukan lapangan pekerjaan, mereka dapat mengatasinya dengan merintis lapangan kerja sesuai bidang keterampilannya yang disertai sikap mental wiraswasta, yang berani, ulet, tekun, aktif, kreatif, bermoral, memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan, mandiri, menjadi pencipta lapangan kerja dan bukan sekedar pencari kerja, sehingga dapatmengurangi pengangguran serta mengentaskan kemiskinan anggota-anggota masyarakatlainya.

2. Rumusan Masalah

1.Pengertian atau definisi wiraswasta ?
2.Mengapa pendidikan wiraswasta perlu digalakan ?
3.Bagaimana operasionalisasi kewiraswastaan itu ?

3. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan motivasi kepada peserta didik untuk menjadi seorang yang mandiri, memiliki sikap mental wiraswasta, menjadi pencipta lapangan kerja bukan sekedar pencari kerja, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran serta mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

4. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini untuk mengantisipasi semakin banyaknya pengangguran yang belum menemukan pekerjaan, khususnya bagi para peserta didik yang tidak lagi mampu untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga mereka bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dengan bekal keterampilan wiraswasta yang dimilikinya.

5. PEMBAHASAN
5.1 Pengertian Wiraswasta
Drs. Ary H. Gunawan (2010:75) mengemukakan bahwa Pengertian atau definisi wiraswasta dapat ditinjau secara nominal dan secara real.
Defisi nominal dari kata wiraswasta ( dari bahasa Sansekerta ) ialah :
Wira = berani, perkasa, utama.
Swa = ( sendiri ) brdiri menurut kekuatan sendiri = mandiri.
Sta = ( berdiri ).
Definisi real :
Wiraswasta adalah keberanian, keperkasaan, keutamaan, dalam memenuhi kebutuhan hidup serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yangada pada diri sendiri.
Dengan kata lain dapat juga disebutkan bahwa wiraswasta adalah sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan serta keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan kekuatan sendiri.
Berikut ini pengertian wiraswasta menurut beberapa ahli :
Menurut Sumahawijaya (1980:83) wiraswasta memuat sifat keberanian, keutamaan, keteladanan, dan semangat yang bersumber dari kekuatan sendiri.
Sedangkan menurut Suryo (1986:69) mengatakan bahwa secara definitif wiraswastawan adalah orang yang memiliki sifat mandiri, berpandangan jauh, kreatif, inovatif, tangguh & berani menanggung resiko dalam pengelolaan usaha & kegiatan yang mendatangkan keberhasilan.
Dan menurut Suhadi (1985:103) mengemukakan bahwa wiraswasta memuat sejumlah karakteristik seperti percaya pada kemampuan diri sendiri, berpandangan luas jauh ke depan, mempunyai keuletan mental, lincah dalam berusaha.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas maka pengertian wiraswasta bukan hanya sekedar usaha swasta atau kerja sambilan di luar dinas Negara, melainkan suatu sikap hidup yang berani penuh tanggung jawab dan menghadapi resiko atas perbuatan yang dilakukanya secara ulet, tabah, dan tekun serta disiplin dalam usaha memajukan prestasi kekaryaan Negara dengan bertumpu pada kekuatan diri sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa manusia wiraswasta selalu berkarya sendirian tanpa keikutsertaan orang lain, ia tetap terbuka untuk bekerjasama dengan orang lain sebagai mahluk sosial.
Pendidikan wiraswasta merupakan usaha sadar menyiapkan dan membekali peserta didik dengan sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidip dengan mengutamakan pada kekuatan sendiri, melalui kegiatan-kegiatan akademis, nonakademis, latihan, dan bimbingan. (Gunawan: 2010:76).
Dengan demikian makna keseluruhan wiraswasta adalah mengupayakan salah satu jalan keluar untuk mengurangi pengangguran, khususnya pengangguran jenis ketiga ( werkoozen), dan anggota masyarakat bertaraf kehidupan dengan pemilikan serba minim secara material dan atau secara spriritual, dengan pemberian bekal pendidikan. Wiraswasta, suatu usaha sadar untuk menyiapkan dan membekali peserta didik dengan sikap yang memiliki keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan kekuatan sendiri, melalui kegatan-kegiatan akademis, nonakademis, latihan, dan bimbingan, khususnya pembekalan keterampilan-keterampilan tepat guna. (Gunawan: 2010:77).

5.2 Mengapa Pendidikan Kewiraswastaan Perlu Digalakan ?
Sebagaimana telah di uraikan dalih kolonial Belanda agar pegawai negeri tidak menurunkan citra priayi, adalah denganmelarang mereka melakukan kerja sambilan alias berwiraswasta, agar tidak menumbuhkan jiwa berani, perkasa, tekun, ulet, dan sebagainya yang dapat membahayakan dominasi penjajah di bumi Indonesia. Sebaliknya warga bumiputera harus menjadi penurut pada penjajah, tidak kreatif, serta tidak patriotik. Mereka harus menjadi priayi, sebagai pencari kerja, alias menjadi orang-orang lemah senantiasa hidup dalam ketergantungan kepada sang majikan, penurut, patuh, dan tidak berinisiatif. Bahkan para penjabat harus menjadi tangan-tangan penjajah yang ikut menjajah bangsanya sendiri.Ternyata sikap menjadi penjilat dan ngolor berasal dari sini.
Dambaan menjadi priayi atau pegawai negeri dan engan berwiraswasta ternyata masih bergema sampai di alam kemerdekaan ini. Memang dengan pelaksanaan politik adu domba dan pecah belah, telah dapat menyingkirkan sifat-sifat asli bangsa Indonesia seperti gotong-royong, persatuan dan kesatuan, aktif dan kratif, termasuk berwiraswasta atau berwirausaha.Ternyata, maksud penjajah yang melarang para priayi khususnya untuk berwiraswasta adalah agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa pemberani, kreatif, tekun, ulet, berdisiplin, patriotik, dan sebagainya sebagai sikap mental wiraswasta.
Dan sekarangsetelah tiada lagi penjajahan di bumi Indonesia, haruslah segera dibangkitkan segala kebiasaan serta semangat mandiri, patriotik, berkesadaran nasional yang tinggi, menjaga persatuan dan kesatuan, dan tidak ketingalan adalah meningkatkan pendidikan wiraswasta untuk menumbuhkan kembali jiwa serta sikap mental wiraswasta. Sikap mental ini yaitu progresif, ulet dan tekun, optimis, disiplin, bertanggung jawab, aktif dan kreatif, berkemauan keras, jujur, bermoral tinggi, yakin akan potensi diri sendiri untuk mandiri, serta berani ambil resiko atas karya dan inisiatifnya. Dengan demikian harus berangsur-angsur dikurangi dambaan untuk menjadi pegawai negeri, menjadi pencari kerja, dan harus di pertinggi minat untuk menjadi wiraswastawan atau wirausahawan, terutama sebagai pencipta lapangan pekerjaan baru yag membantu mengurangi pengangguran, selanjutnya dapat pula mengurangi kemiskinan. (Dikutip Gunawan, 2010:78-79).

5.3 Bagaimana Operasionalisasi Kewiraswastaan Itu ?
Secara umum dapat dikatakan, bahwa manusia wiraswasta ialah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi.Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri dalam mengatasi permasalahan hidupnya.Di samping itu manusia wiraswasta mampu mengatasi kemiskinan, baik kemiskinan lahir maupun batin tanpa menunggu pertolongan dari negara atau instansipemerintah/sosial.(Dikutif Gunawan, 2010:79).
Menurut Gunawan, (2010: 80) ciri-ciri manusia wiraswasta yang pokok adalah memiliki kepribadian yang kuat, dengan jabarannya sebagai berikut :
1) Memiliki moral yang tinggi (takwa kepada tuhan yang maha esa, memliliki kemerdekaan batin, keutamaan, kasih sayang terhadap sesama hidup, loyalitas hukum, berkeadilan, bertepa diri, meyakini kebenaran hukum karma). (wasty Soemanto: 1984:67).

2) Memiliki sikap mental wiraswasta (berkemauan keras mencapai tujuan hidup, mengenal jati dirinya, disiplin diri, memiliki ketahanan fisik dan mental, tahan uji, sabar, tabah, ulet, jujur, percaya diri, bertanggung jawab, serta memiliki pemikiran yang kreatif dan konstruktif). (M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer dalam Suryana,, 2001:8-9).

3) Memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan (mengenal, menginterprestasikan, mengolah,dan menikmati alam semesta secara bertanggung jawab).(Dr. Suparman sumahamijaya:1984:200).

4) Memiliki keterampilan berwiraswasta (keterampilan menangkap gejala, berpikir kreatif/variatif untuk memecahkan berbagai macam permasalahan, keterampilan mendisain, keterampilan dalam membuat keputusan, keterampilan dalam kepemimpinan, keterampilan menajerial, keterampilan dan keluwesan dalam bergaul antarmanusia (human relation). (Dr. Suparman sumahamijaya:1984:201).
Mendidik manusia wiraswasta dapat dilakukan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat dengan menggunakan kepemimpinan pancasila, yaitu “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Terbentuknya sikap mental wiraswasta harus didukung dengan penguasaan keterampilan-keterampilan tepat-guna, disertai etos kerja yang tinggi (mulai dari mencintai kerja, terjaminya keamanan kerja, makin meningkatkan gairah kerja, diimbangi dengan imbalan kerja yang memadai, sehingga menimbulkan kelahapan kerja, atau dalam bahasa belanda: arbeidsliefde, arbeidsvreede, arbeidsvreugde met geode tegenprestatie, en arbeidslust).
Tidak sedikit calon wiraswastawan yang takut gagal melangkah karena alasan modal.Hal ini sesungguhnya sangat tidak beralasan, karena pada prinsipnya berwiraswasta dengan modal yang sudah siap bahkan melimpah, sebenarnya tidak termasuk seni berwiraswasta.Sebaliknya justru mereka harus melangkah dari nol, kemudian dengan sikap mental wiraswasta merayap dan merangkak sampai bangkit berdiri mandiri hingga mencapai kejayaan.Modal wiraswasta adalah kepribadian yang kuat, ulet, dan tekun, dan seterusnya, sebagaimana telah dijabarkan.Kini kemudahan-kemudahan sistem perbankan juga sangat mendukung usaha-usaha wiraswasta, tetapi dengan terlebih dulu menunjukan prestasi serta bonafiditas usaha anda.Selanjutnya berbagai jenis kredit dari bank dapat diajukan untuk menigkatkan/mengembangkan usaha anda. Pendidikan wiraswasta dalam lingkungan keluarga diawali dengan pemberian contoh-contoh yang positif dari orangtua serta pembentukan-pembentukan pembiasaan kewirawsastaan, seperti senantiasamenyelesaikan/bertanggung jawab terhadap segala urusannya sendiri. Cotohnya, anak-anak (yang sudah cukup kemampuannya) agar menata kembali tempat tidurnya segara setelah bagun tidur, mencuci piring dan gelas minumannya, mencuci pakainya sendiri, menata kembali mainannya setelah selesai bermain, dan sebagainya.
Pedidikan wiraswasta di sekolah (pendidikan formal) serta di masyarakat (pendididkan nonformal) oleh para guru serta para pemuka masyarakatdapat melalui kurikulum yang terprogram dan dapat lebih baik dilaksanakan secara normatif.Jadi melalui Tri Pusat Pendidikan, sikap mental wiraswasta dapat meningkatkan kariernya, dengan sikap mental wiraswasta dapat meningkatkan kemampuan manajerialnya, misalnya kursus computer, dengan menempuh pendidikan-pendidikan nonformal, manajemen keuangan, kepemimpian, dan sebagainya atau kuliah di pergururan tinggi swasta di luar jam kerja, termasuk mengikuti kuliah universitas terbuka (UT).
Bagi para penganggur, putus sekolah, pegawai/karyawan negeri/swasta tidak terkecuali, semua berhak berwiraswasta, asal tidak mengecewakan tugas pokoknya, demi meningkatkan taraf hidup serta kehidupan sehari-hari.Misalnya, mulai dengan usaha-usaha kecil-kecilan (menjual pisang goreng, makanan ringan, dan sebagainya), usaha sedang sampai besar.Juga bisa beternak kecil sampai tumpangsari, mendirikan bengkel motor, mobil, elektronika, dan sebagainya.Semua melalui perintisan yang dilakukan dengan ulet, tekun, disiplin, manajemen yang baik, dan sebagainya sesuai sikapmental wiraswasta untuk menuju sukses.Landasan psikologisnya adalah “trial and error sampai Leibnitz”.
Peningkatan sumber daya manusia Indonesia harusnya senantiasa diupayakan untuk kesinambugan pembanguan secara mental, spiritual, material, personal, dan nonpersonal.Khususnya penanaman sikap mental wiraswasta yang sedini mungkin dalam tri pusat pendidikan untuk menumbuh-kembangkan generasi yang tangguh, demi membantu mengurangi pengangguran dan kemiskinan, perluasan lapangan kerja, serta peningkatan mutu tenaga kerja Indonesia. (Gunawan : 2010:81-82).

6. SIMPULAN dan SARAN

6.1 Simpulan
Jadi, pendidikan wiraswasta merupakan usaha sadar menyiapkan dan membekali peserta didik dengan sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan pada kekuatan sendiri, melalui kegiatan-kegiatan akademis, nonakademis, latihan, bimbingan, khususnya pembekalan keterampilan-keterampilan tepat guna.

6.2 Saran

Penulis mengajak pembaca untuk bisa merealisasikan pendididkan kewiraswastaan ini dikehidupan masyarakat, agar terciptanya sumber daya manusia di indonesia yang potensial dan mandiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Ary H. 2010. Sosiologi Pendidikan : suatu analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan Jakarta : Rineka cipta.
Sumahamijaya, Suparman. 1984. Human Relation. Jakarta : Bumi Aksara.
Soemanto, Wasty. 1984. Sosiologi Pendidikan : Nilai Moral Dalam Masyarakat. Bandung :Pustaka.

 

 

Pendidikan Wiraswasta untuk Mengurangi Pengangguran dan kemiskinan

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah menulis karya ilmiah

Dosen Pengampu
Edi Suryadi, M.Pd.

Oleh :
Dicky Lazaroeddin
1342110020

Progam Studi Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tridinanti Palembang
Tahun 2015

UPAYA UNTUK MEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI
OLEH
RA. KIKI ANGGELA*

1. Latar Belakang
Anak merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dan dikembangkan potensinya dengan sebaik-baiknya. Pemahaman yang utuh dapat mengarahkan anak untuk meraih potensi maksimalnya. Sebagai orang tua maupun pendidik, Anda harus berusaha untuk mengerti dan memahami karakter anak usia dini dan memastikan perkembangannya mengarah pada potensi diri yang positif serta anak mampu mandiri dalam menyelesaikan masalahnya.
Sebagai orang tua maupun pendidik, Anda perlu menanamkan sikap kemandirian pada anak sedini mungkin. Dalam melatih keberanian dan kemandirian anak tidak bisa instan, tapi memerlukan proses dan waktu. Karena itu, Anda perlu menanamkan sikap kemandirian pada anak sedini mungkin, agar anak menjadi orang yang mandiri sejak kecil sampai kelak ia dewasa. Bila anak mandiri, anak akan percaya diri dimanapun ia berada. Begitu pula saat anak menghadapi masalah sehari-hari, dengan mudah persoalan tersebut akan diatasi tanpa harus bergantung kepada orang lain.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
2.1 Apakah definisi kemandirian?
2.2 Bagaimana ciri-ciri kemandirian?
2.3 Bagaimana mengenal karakteristik anak usia dini?
2.4 Bagaimana upaya untuk membangun kemandirian anak usia dini?

3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
3.1 Definisi kemandirian.
3.2 Ciri-ciri kemandirian.
3.3 Mengenal karakteristik anak usia dini.
3.4 Upaya untuk membangun kemandirian anak usia dini.
4. Manfaat Penelitian
4.1 Secara teoritik, penelitian ini untuk menambah pengetahuan kita tentang upaya membangun kemandirian anak usia dini.
4.2 Secara praktis, penelitian ini berguna untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam memperkaya ilmu pendidikan sekaligus sebagai sumber informasi bagi orang tua maupun pendidik dalam membangun kemandirian anak.

2. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kemandirian
Kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan untuk kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dari orang lain, maupun berpikir dan bertindak original/kreatif, dan penuh inisiatif, mampu mempengaruhi lingkungan, mempunyai rasa percaya diri dan memperoleh kepuasan dari usahanya. (Masrun 1986:8)
Kemandirian adalah suatu perasaan otonomi, sehingga pengertian perilaku mandiri adalah suatu kepercayaan diri sendiri, dan perasaan otonomi diartikan sebagai perilaku yang terdapat dalam diri seseorang yang timbul karena kekuatan dorongan dari dalam tidak karena terpengaruh oleh orang lain. (Brawer dalam Chabib Toha 1993:121)
Kemandirian seseorang terlihat pada waktu orang tersebut menghadapi masalah. Bila masalah itu dapat diselesaikan sendiri tanpa meminta bantuan dari orang tua dan akan bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang telah diambil melalui berbagai pertimbangan maka hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk mandiri. (Kartini Kartono 1985:21)
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kemandirian merupakan sikap yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan kemampuan mengatur diri sendiri, sesuai dengan hak dan kewajibannya sehingga dapat menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapi tanpa meminta bantuan atau tergantung dari orang lain dan dapat bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang telah diambil melalui berbagai pertimbangan sebelumnya.
2.2 Ciri-ciri Kemandirian
Ciri-ciri Kemandirian mempunyai ciri khas tertentu, yang telah digambarkan oleh pakar-pakar berikut ini:
2.2.1 Menurut Parker ciri-ciri kemandirian yaitu:
1. Tanggung jawab. Tanggung jawab berarti memiliki tugas untuk menyelesaikan sesuatu dan diminta pertanggung-jawaban atas hasil kerjanya.
2. Independensi. Independensi adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak tergantung kepada otoritas dan tidak membutuhkan arahan. Independensi juga mencakup ide adanya kemampuan mengurus diri sendiri dan menyelesaikan masalah diri sendiri.
3. Otonomi dan kebebasan untuk menentukan keputusan sendiri. Kemampuan menentukan arah sendiri (self-determination) berarti mampu mengendalikan atau mempengaruhi apa yang akan terjadi kepada dirinya sendiri.
4. Keterampilan memecahkan masalah.
5. Dengan dukungan dan arahan yang memadai, individu akan terdorong untuk mencapai jalan keluar bagi persoalan-persoalan praktis relasional mereka sendiri.
2.2.2 Nasrudin (dalam Maulidiyah, 2005) menyebutkan kemandirian itu ditandai dengan adanya perilaku:
1. Mengerjakan sendiri tugas-tugas rutinya, yang ditunjukkan dengan kegiatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri dan bukan karena orang lain dan tidak tergantung pada orang lain.
2. Aktif dan bersemangat, yaitu ditunjukkan dengan adanya usaha untuk mengejar prestasi meskipun kegiatan yang dilakukan tekun merencanakan serta mewujudkan harapan-harapannya.
3. Inisiatif, yaitu memiliki kemampuan berfikir dan bertindak secara kreatif
4. Bertanggung jawab, yang ditunjukkan dengan adanya disiplin dalam belajar, melaksanakan tugas dengan baik dan penuh pertimbangan dalam bertindak.
5. Kontrol diri yang kuat, yaitu ditunjukkan dengan adanya mengendalikan tidakan mengatasi masalah, dan mampu mempengaruhi lingkungan atas usaha sendiri.
2.2.3 Mustafa (1982) menyebutkan ciri-ciri kemandirian yaitu:
1. Mampu menentukan nasib sendiri, segala sikap dan tindakan yang sekarang atau yang akan datang dilakukan atas kehendak sendiri dan bukan karena orang lain atau tergantung pada orang lain.
2. Mampu mengendalikan diri, maksudnya untuk meningkatkan pengendalian diri atau adanya kontrol diri yang kuat dalam segala tindakan, mampu beradaptasi dengan lingkungan atas usaha dan mampu memilih jalan hidup yang baik dan benar.
3. Bertanggung jawab, adalah kesadaran yang ada dalam diri seseorang bahwa setiap tindakan akan mempunyai pengaruh terhadap orang lain dan dirinya sendiri, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan segala kewajiban-kewajiban baik itu belajar ataupun melakukan tugas-tugas rutin.
4. Kreatif dan inisiatif, kemampuan berfikir dan bertindak secara kreatif dan inisiatif sendiri dalam menghasilkan ide-ide baru.
5. Mengambil keputusan dan mengatasi masalah sendiri, memiliki pemikiran, pertimbangan-pertimbangan, pendapat sendiri dalam pengambilan keputusan yang dapat mengatasi masalah sendiri serta berani menghadapi resiko terlepas dari pengaruh atau bantuan dari pihak lain.
2.2.4 Menurut Tim Pustaka Familia (dalam Khalifah,2009):
1. Mampu berfikir dan berbuat untuk diri sendiri, ia aktif, kreatif, kompeten dan tidak bergantung pada orang lain dalam melakukan sesuatu dan tanpa spontan.
2. Mempunyai kecenderungan memecahkan masalah, ia mampu dan berusaha mencari cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
3. Tidak merasa takut mengambil resiko dengan mempertimbangkan baik-buruknya dalam menentukan pilihan dan keputusan.
4. Percaya terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
5. Mempunyai kontrol diri yang kuat dan lebih baik terhadap hidupnya. Berarti ia mampu mengendalikan tindakan, mengatasai masalah, dan mampu mempengaruhi lingkungan atas usaha sendiri.
Setelah melihat ciri-ciri kemandirian yang dikemukakan dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kemandirian tersebut antara lain:
1. Individu yang berinisiatif dalam segala hal.
2. Mampu mengerjakan tugas rutin yang dipertanggungjawabkan padanya, tanpa mencari pertolongan dari orang lain.
3. Memperoleh kepuasan dari pekerjaannya.
4. Mampu mengatasi rintangan yang dihadapi dalam mencapai kesuksesan.
5. Mampu berpikir secara kritis, kreatif dan inovatif terhadap tugas dan kegiatan yang dihadapi.
6. Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda pendapat dengan orang lain, dan merasa senang karena dia berani mengemukakan pendapatnya walaupun nantinya berbeda dengan orang lain

2.3 Karakteristik Anak Usia Dini
Berikut ini merupakan gambaran mengenai karakterisrik anak usia dini: (http://mutiarabijaksana.com/2014/06/22/pentingnya-mengetahui-karakteristik-anak-usia-dini/)
2.3.1 Rasa ingin tahu besar.
Pada anak-anak usia dini, umumnya mempunyai rasa keingintahuan yang besar tentang hal-hal yang ada sekitarnya. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan antusias terhadap berbagai hal terutama mengenai hal-hal yang baru Pada masa balita rasa ingin tahunya ditunjukkan dengan meraih benda-benda kecil yang ada pada jangkauannya kemudian dimasukkan ke mulutnya. Kemudian saat usia 3-4 tahun anak-anak senang bermain bongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Anak-anak juga mulai gemar untuk menanyakan semua hal meski masih menggunakan bahasa yang sangat sederhana.
2.3.2 Mempunyai karakter yang unik.
Tentunya, karakter yang dimiliki oleh anak berbeda-beda dan mempunyai ciri khas masing-masing. Meskipun mereka mempunyai banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini, akan tetapi setiap anak mempunyai kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor genetis dan juga lingkungan. Untuk itu pendidik perlu menerapkan pendekatan individual dalam menangani anak usia dini.
2.3.3 Senang berimajinasi.
Fantasi merupakan kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan obyek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata. Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Biasanya, mereka suka terhadap hal-hal yang imajinatif bahkan terkadang mereka dapat menciptakan adanya teman imajiner. Teman imajiner itu bisa berupa orang, benda, atau pun hewan.
2.3.4 Masa potensial untuk belajar.
Masa itu sering juga disebut sebagai “golden age” atau usia emas karena pada rentang usia itu anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek. Orang tua perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi mengisinya dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Perlu disadari juga oleh orang tua bahwa pada masa tersebut anak-anak senang mempelajari suatu hal, mereka akan bergairah untuk terus menekuninya dan mereka senang pula melakukan berbagai aktifitas yang membuat sesuatu yang baru dalam dirinya. Misalkan, jika mereka belajar mewarnai dan bernyanyi maka mereka akan melakukan hal tersebut berulang-ulang karena merasakan ada perubahan dalam dirinya dari tidak bisa menjadi bisa. Dengan diiringi rasa ingin tahu yang kuat, anak lazimnya senang sekali menjelajah, bermain kesana kemari, mencoret-coret dinding, dan aktifitas eksplorasi lainnya.
2.3.5 Menunjukkan sikap egosentris.
Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Mereka cenderung memahami dan memperhatikan suatu hal hanya dari sudut pandang kepentingan sendiri saja. Hal itu terlihat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis atau merengek sampai keinginannya terpenuhi.
2.3.6 Aktif dan energik.
Anak usia dini lazimnya senang sekali melakukan berbagai aktifitas. Si kecil seolah-olah tidak pernah lelah, tidak pernah merasa bosan, dan tidak pernah berhenti beraktifitas. Mereka selalu ingin tahu, selalu bergerak kesana kemari. Mereka baru berhenti beraktifitas kecuali saat ia tidur.
2.3.7 Memiliki daya konsentrasi yang pendek.
Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Pehatian anak akan mudah teralih pada hal lain terutama yang menarik perhatiannya. Anak umumnya tidak akan mampu duduk berlama-lama untuk memperhatikan sesuatu apalagi yang bersifat membosankan. Tapi sebaliknya, anak akan senang memperhatikan hal-hal yang menarik dan menyenangkan. Sebagai orang tua dalam menyampaikan pembelajaran hendaknya memperhatikan hal ini.
2.3.8 Bagian dari makhluk sosial
Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Ia mulai belajar berbagi, mau menunggu giliran, dan mengalah terhadap temannya. Melalui interaksi sosial ini anak membentuk konsep dirinya. Anak-anak sudah mulai bersosialisasi dengan teman sebayanya dan mulai memiliki kemampuan untuk bekerja sama dan berhubungan dengan teman-temannya Ia mulai belajar bagaimana caranya agar ia bisa diterima lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini anak mulai belajar untuk berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya karena ia mulai merasa membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.
2.3.9 Spontan.
Perilaku dan sikap yang dicerminkan anak itu pada umumnya adalah sikap asli mereka tanpa di rekayasa. Sehingga, sering kita jumpai anak-anak berbicara ceplas-ceplos dan merefleksikan apapun yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Dalam melakukan suatu hal, anak-anak melakukannya secara spontan tanpa mempertimbangkan apakah sesuatu itu berbahaya atau tidak bagi dirinya maupun bagi orang lain. Misalnya saat bermain dengan benda-benda tajam, mereka cenderung tidak mau mendengarkan perkataan orangtuanya kalau benda yang dimainkannya itu berbahaya.
2.3.10 Mudah frustasi.
Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya atau membuat dia merasa tidak puas, maka dia akan kecewa dan meluapkannya dengan menangis atau marah-marah. Saat anak-anak dalam usia dini menghadapi suatu kesulitan maka orang tua sebaiknya datang untuk membantunya. Oleh karena itu sebaiknya orang tua selalu mendampingi anak-anak terutama pada usia dini dalam bermain.

2.4 Upaya Membangun Karakteristik Anak Usia Dini
2.4.1 Menumbuhkan percaya diri anak.
Setiap bayi sebenarnya sudah memiliki kepercayaan diri, tetapi ketika dia balita sebaiknya orang tua sepatutnya memberikan respon positif atas kebutuhan si anak. Hal ini dapat meningkat perasaan kepercayaan dari si balita dan balita pun akan merasa aman juga didalam kehidupannya. Dengan perasaan aman tersebut, balita pun akan lebih berani didalam menghadapi tantangan yang ada dihadapannya. Selanjutnya mandiri pun akan ikut terbentuk juga ketika menyelesaikan persoalannya.
2.4.2 Memberikan tanggungjawab dan kepercayaan kepada anak
Ketika kita melihat/merasa anak kita melakukan sesuatu yang kita rasa dia mampu melakukannya, sebaiknya kita memberi kesempatan kepada dia untuk melakukannya sendiri. Kita bisa memberi kesempatan kepada dia dan jangan melarangnya jika kita merasa dia mampu serta jangan terlalu risau. Memberi kesempatan dan kepercayaan kepada anak akan dapat membuat anak berani dan mandiri juga.
2.4.3 Memberi Contoh.
Seperti pepatah yang mengatakan bahwa anak adalah cerminan diri kita. Ya, pepatah tersebut benar adanya karena anak akan selalu mencontoh, terutama dari orang terdekatnya yaitu orang tua. Jika orang tua memiliki kepribadian yang tertutup misal tidak suka melakukan hal-hal yang baru, takut menghadapi tantangan sebaiknya tidak untuk terlalu mengharapkan balitanya tumbuh dengan memiliki kepribadian berani dan mandiri. Dengan memberi contoh yang nyata kepada anak, anak akan memahaminya dan semakin mudah dia menirunya. Namun jika orang tua tidak atau belum bisa memberi contoh yang nyata kepada anak, sebaiknya jangan menunjukkan “ketakutan” dan “ketidakmandirian” kepada si anak, baik secara langsung atau tidak langsung.
2.4.4 Jangan Memaksa.
Semua yang kita lakukan untuk melatih keberanian dan kemandirian anak memerlukan waktu dan proses, hal itu dapat berkembang secara perlahan sehingga jangan kita memaksa si anak untuk menguasai segala hal yang diajarkan pada saat itu juga. Misal melatih anak untuk selalu bangun tidur langsung mandi, jangan memaksa anak saat itu juga untuk menguasai hal tersebut, perlu beberapa hari hingga lancar. Orang tua selalu dampingi dan mengingatkan si anak untuk melakukan hal yang benar tersebut. Tetapi perlu diingat agar jangan terlalu sering/keras mengkritik si anak karena hal itu akan membuat nyali/keberanian si anak akan turun/down.
2.4.5 Jangan terlalu membebani.
Perlu diingat bahwa tahapan yang bisa dilalui oleh si anak adalah berkembang secara bertahap, sehingga stimulus yang diberikan kepada si anak harus disesuaikan juga dengan perkembangan si anak. Jika terlalu banyak stimulus akan membuat si anak bingung dan akan kehilangan keberanian untuk melakukan sesuatu.
2.4.6 Menetapkan batasan dengan tepat.
Kita tetap harus memberi batasan apa yang boleh dilakukan oleh anak kita, tetapi larang yang diberikan itu harus dapat disertai dengan alasan yang logis. Misal ketika si anak melatih keberaniannya dengan bermain di luar teras rumah, sepatutnya orang tua tidak menakut-nakuti si anak dengan hal-hal yang tidak bisa difahami/logis oleh si anak, contohnya mengatakan si anak akan diganggu hantu atau digigit anjing, dan sebagainya. Ketakutan tersebut akan ditangkap oleh otaknya sebagai kenyataan yang benar dan si anak pun akan tidak berani keluar dari teras rumahnya, akhirnya akan mempengaruhi keberanian dan kemandirian dia.
2.4.7 Memberi kesempatan memilih.
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan – keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.
2.4.8 Hargailah usahanya.
Orang tua mungkin kadang merasa tidak sabar menghadapi usaha anak untuk berusaha sendiri tanpa bantuan orangtua. Namun, mulai sekarang Anda harus bisa menghargai sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Sebaiknya orang tua memberi kesempatan pada anak untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.
2.4.9 Jangan langsung menjawab pertanyaan.
Meskipun salah satu tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya Anda tidak harus langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan pada anak untuk menjawab pertanyaan tersebut dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Dengan demikian pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.
2.4.10 Dorong untuk mencari alternative.
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah, orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri .
2.4.11 Jangan patahkan semangatnya
Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. (http://pondokibu.com/cara-untuk-membangun-kemandirian-dalam-diri-anak.html)
3. SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Kemandirian merupakan sikap yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan kemampuan mengatur diri sendiri, sesuai dengan hak dan kewajibannya sehingga dapat menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapi tanpa meminta bantuan atau tergantung dari orang lain dan dapat bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang telah diambil melalui berbagai pertimbangan sebelumnya.
Dalam melatih keberanian dan kemandirian anak tidak bisa instan, tapi memerlukan proses dan waktu. Karena itu, Anda sebagai orang tua perlu menanamkan sikap kemandirian pada anak sedini mungkin, agar anak menjadi orang yang mandiri sejak kecil sampai kelak ia dewasa. Bila anak mandiri, anak akan percaya diri dimanapun ia berada.
3.2 Saran
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas menulis karya ilmiah dan bisa menambah wawasan pembaca tentang upaya membangun kemandirian anak. Kami mengharapkan saran dari pembaca untuk kemajuan makalah ini menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Arrey, avan. http://tugasavan.blogspot.com/2010/10/kemandirian.html (diakses 25 mei 2015)

http://mutiarabijaksana.com/2014/06/22/pentingnya-mengetahui-karakteristik-anak-usia-dini/ (diakses 25 mei 2015)

http://www.psychologymania.com/2013/02/ciri-ciri-kemandirian.html (diakses 25 mei 2015)

http://pondokibu.com/cara-untuk-membangun-kemandirian-dalam-diri-anak.html (diakses 25 mei 2015)

KENAKALAN REMAJA

KENAKALAN REMAJA
Oleh:
Tri Susanti*

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
“Remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.”http://iwanttohappierever.blogspot.com/2014/06/contoh-makalah-tentang-kenakalan-remaja.html
Beberapa tahun terakhir ini sering kita jumpai perilaku para remaja yang sudah mulai menyimpang dari kepribadian bangsa Indonesia. Perilaku tersebut meliputi tawuran antar kelompok, melakukan seks bebas, dan pemakaian obat-obatan terlarang. Tentu hal tersebut dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Perilaku kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh para remaja yang gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik yang tidak dapat terselesaikan pada masa kanak-kanak maupun remajanya. Sering didapati bahwa trauma pada masa lalunya maupun perlaku kasar dan tidak menyenangkan dari orang-orang terdekatnya yang membuat remaja tersebut mengalami penyimpangan dalam bertingkah laku seperti melakukan kenakalan-kenakalan.
Hal tersebut adalah suatu masalah yang dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, oleh karena itu masalah kenakalan remaja seharusnya mendapatkan perhatian yang serius. Mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif demi terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan di kalangan remaja. Memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada.

1.2 Masalah
1.2.1 Apa pengertian kenakalan remaja?
1.2.2 Apa saja jenis-jenis kenakalan remaja?
1.2.3 Apa faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja?
1.2.4 Bagaimana cara megatasi kenakalan remaja?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mendeskripsikan pengertian kenakalan remaja.
1.3.2 Mendeskripsikan jenis-jenis kenakalan remaja
1.3.3 Mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
1.3.4 Mendeskripsikan cara mengatasi kenakalan remaja.
1.4 Manfaat
1.4.1 Pembaca dapat mengetahui pengertian kenakaaln remaja.
1.4.2 Pembaca dapat mengetahui jenis-jenis kenakalan remaja.
1.4.3 Pembaca dapat mengetahui faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
1.4.4 Pembaca dapat mengetahui cara mengatasi kenakalan remaja kenakalan remaja.

2. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kenakalan Remaja
“Kenakalan remaja adalah semua perubahan anak remaja (usia belasan tahun) yang berlawanan dengan ketertiban umum (nilai dan norma yang diakui bersama) yang ditujukan pada orang, binatang, dan barang-barang yang dapat menimbulk bahaya atau kerugian pada pihak lain.”
http://iwanttohappierever.blogspot.com/2014/06/contoh-makalah-tentang-kenakalan-remaja.html
Berikut merupakan pengertian kenakalan remaja menurut para ahli.
1. Paul Moedikdo
• Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
• Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
• Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
2. Kartono
Kenakalan remaja atau dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis pada remaja di sebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial.
3. Santrock
Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat di terima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.
4. Drs.B.Simanjutak,S.H.
Perbuatan-perbuatan anak remaja yang bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat di mana ia hidup,atau suatu perbuatan anti sosial di mana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif
5. Mussendkk
Perilaku yang melanggar hukum atau kejahatan yang biasanya dilakukan oleh anak remaja yang berusia 16-18 tahun, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum.
Dari beberapa pengertian kenakalan remaja menurut para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja adalah perilaku remaja yang bertentangan dengan norma masyarakat serta dapat menimbulkan keonaran dalam masyarakat yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

2.2 Jenis-jenis kenakalan remaja
Jenis-jenis kenakalan remaja meliputi tawuran, seks bebas, dan penggunaan obat-obatan terlarang.

2.2.1 Tawuran
Tawuran yang dilakukan oleh para remaja marak terjadi beberapa tahun belakangan ini. Misalnya tawuran antar pelajar. “Tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar.” http://den-haryprasetyo.blogspot.com/2013/11/tawuran-antar-pelajar-masalah-dan_7044.html
Menurut data komnas PA, sepanjang 2013 ada 255 kasus tawuran antar-pelajar di Indonesia. Angka ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya, yang hanya 147 kasus. Dari jumlah tersebut, 20 pelajar meninggal dunia, saat terlibat atau usai aksi tawuran, sisanya mengalami luka berat dan ringan. Sedangkan di Jakarta, pada 2013 angka tawuran pelajar mencapai 112 kasus. Jumlah ini meningkat dibanding 2012, yang hanya 98 kasus dengan 12 orang meninggal dunia.
Perilaku tawuran tersebut bukan hanya mengakibatkan kerugian harta benda atau korban cedera tapi sudah merenggut ratusan nyawa melayang sia-sia selama ini.

2.2.2 Seks Bebas
“Seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan di luar hubungan pernikahan dan bertentangan dengan norma-norma tingkah laku seksual dalam masyaraka yang tidak dapat diterima secara umum.”
http://nopanova1.blogspot.com/p/pengertian-dan-penyebab-prilaku-seks_23.html
Seks bebas ini juga salah satu bentuk kenakalan remaja yang sedang marak terjadi, bahkan perilaku ini sudah merambah di kalangan pelajar. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan, 48 dari 1.000 kehamilan di perkotaan terjadi pada kelompok remaja usia 15-19 tahun.
Dampak dari kenakalan remaja yang satu ini antara lain terjadinya kehamilan di luar nikah, beban psikologi yang diderita pihak remaja perempuan karena telah hamil di luar nikah, dan biasanya remaja tersebut dikeluarkan oleh pihak sekolah jika remaja tersebut adalah seorang pelajar.

2.2.3 Pemakaian Obat-obatan Terlarang
Maraknya narkotika dan obat-obatan terlarang telah banyak mempengaruhi mental dan sekaligus pendidikan bagi para pelajar dan remaja saat ini. Masa depan bangsa yang besar ini bergantung sepenuhnya pada upaya pembebasan kaum remaja dari bahaya narkoba.
Penyebab dari pemaikaian obat-obatan terlarang seperti narkoba ini adalah kegagalan yang di alami dalam kehidupan, pergaulan yang bebas dan lingkungan yang kurang tepat, kurangnya siraman agama, dan keinginan untuk sekadar mencoba.
Beberapa hal untuk mencegah penggunaan obat-obatan terlarang bagi para remaja menurut https://bayu96ekonomos.wordpress.com antara lain adalah membangkitkan kesadaran beragama, menginformasikan hal-hal positif dan bermanfaat, selektif dalam memilih teman, menghindarkan diri dari lingkungan yang tidak tepat, dan mengetahui fakta-fakta tentang narkoba termasuk akibat-akibat yang di timbulkan oleh barang-barang haram tersebut.

2.3 Faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja
Menurut http://iwanttohappierever.blogspot.com/2014/06/contoh-makalah-tentang-kenakalan-remaja.html Faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja secara umum dapat dikelompokan ke dalam dua faktor, yaitu sebagai berikut:

2.3.1 Faktor Intern
Faktor intern dari faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja terdiri dari faktor kepribadian, faktor kondisi fisik, serta faktor tatus dan peranannya di masyarakat.

2.3.1.1 Faktor Kepribadian
Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis pada system psikosomatis dalam individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya (biasanya disebut karakter psikisnya). Pada periode ini, seseorang meninggalkan masa anak-anak untuk menuju masa dewasa. Masa ini di rasakan sebagai suatu krisis identitas karena belum adanya pegangan dan kepribadian mental untuk menghindari timbulnya kenakalan remaja atau perilaku menyimpang.

2.3.1.2 Faktor Kondisi Fisik
Faktor ini dapat mencakup segi cacat atau tidaknya secara fisik dan segi jenis kelamin. Ada suatu teori yang menjelaskan adanya kaitan antara cacat tubuh dengan tindakan menyimpang (meskipun teori ini belum teruji secara baik dalam kenyataan hidup). Menurut teori ini, seseorang yang sedang mengalami cacat fisik cenderung mempunyai rasa kecewa terhadap kondisi hidupnya. Kekecewaan tersebut apabila tidak disertai dengan pemberian bimbingan akan menyebabkan si penderita cenderung berbuat melanggar tatanan hidup bersama sebagai perwujudan kekecewaan akan kondisi tubuhnya.

2.3.1.3 Faktor Status dan Peranannya di Masyarakat
Seseorang anak yang pernah berbuat menyimpang terhadap hukum yang berlaku, setelah selesai menjalankan proses sanksi hukum (keluar dari penjara), sering kali pada saat kembali ke masyarakat status atau sebutan “eks narapidana” yang diberikan oleh masyarakat sulit terhapuskan sehingga anak tersebut kembali melakukan tindakan penyimpangan hukum karena meresa tertolak dan terasingkan.

2.3.2 Faktor Ekstern
Faktor ektern dari penyebab terjadinya kenakalan remaja antara lain kondisi lingkungan keluarga, kontak sosial dari lembaga masyarakat kurang efektif, kondisi geografis atau kondisi fisik alam, faktor kesenjangan ekonomi dan disintegrasi politik, dan Revolusi.

2.3.2.1 Kondisi Lingkungan Keluarga
Di kota-kota besar Indonesia, generasi muda yang orang tuanya disibukan dengan kegiatan bisnis sering mengalami kekosongan batin karena bimbingan dan kasih sayang langsung dari orang tuanya sangat kurang. Kondisi orang tua yang lebih mementingkan karier daripada perhatian kepada anaknya akan menyebabkan munculnya perilaku menyimpang terhadap anaknya. Kasus kenakalan remaja yang muncul pada keluarga kaya bukan karena kurangnya kebutuhan materi melainkan karena kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.

2.3.2.2 Kontak Sosial dari Lembaga Masyarakat Kurang Baik atau Kurang Efektif
Apabila sistem pengawasan lembaga-lembaga sosial masyarakat terhadap pola perilaku anak muda sekarang kurang berjalan dengan baik, akan memunculkan tindakan penyimpangan terhadap nilai dan norma yang berlaku. Misalnya, mudah menoleransi tindakan anak muda yang menyimpang dari hukum atau norma yang berlaku, seperti mabuk-mabukan yang dianggap hal yang wajar, tindakan perkelahian antara anak muda dianggap hal yang biasa saja. Sikap kurang tegas dalam menangani tindakan penyimpangan perilaku ini akan semankin meningkatkan kuantitas dan kualitas tindak penyimpangan di kalangan anak muda.

2.3.2.3 Kondisi Geografis atau Kondisi Fisik Alam
Kondisi alam yang gersang, kering, dan tandus, dapat juga menyebabkan terjadinya tindakan yang menyimpang dari aturan norma yang berlaku, lebih-lebih apabila individunya mempunyai mental negatif misalnya, melakukan tindakan pencurian dan mengganggu ketertiban umum, atau konflik yang bermotif memperebutkan kepentingan ekonomi.

2.3.2.4 Faktor Kesenjangan Ekonomi dan Disintegrasi Politik
Kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin akan mudah memunculkan kecemburuan sosial dan bentuk kecemburuan sosial ini bisa mewujudkan tindakan perusakan, pencurian, dan perampokan. Disintegrasi politik (antara lain terjadinya konflik antar partai politik atau terjadinya peperangan antar kelompok dan perang saudara) dapat mempengaruhi jiwa remaja yang kemudian bisa menimbulkan tindakan-tindakan menyimpang.

2.3.2.5 Faktor Perubahan Sosial Budaya yang Begitu Cepat (Revolusi)
Perkembangan teknologi di berbagai bidang khususnya dalam teknologi komunikasi dan hiburan yang mempercepat arus budaya asing yang masuk akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku anak menjadi kurang baik, lebih-lebih anak tersebut belum siap mental dan akhlaknya, atau wawasan agamanya masih rendah sehingga mudah berbuat hal-hal yang menyimpang dari tatanan nilai-nilai dan norma yang berlaku.

2.4 Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja
Menurut https://rizbig.wordpress.com/2013/10/23/cara-mengatasi-kenakalan-remaja/ ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Kegagalan menghadapi identisan peran dan lemahnya control diri bisa dicegah atau bisa diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik, juga mereka berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi mereka.
3. Kehidupan beragama keluarga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosila keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan melalukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma-norma agama.
4. Untuk menghindari masalah yang timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orang tua juga hendaknya memberikan kesibukan dan mempercfayakan tanggungjawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggungjawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggungjawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak “Keluyuran” tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggungjawab dalam ruamh tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasab teman yang baik.
5. Orang tua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar anak memilih jurusan sesuai dengan bakat, kesenangan, dan hobi si anak. Tetapi apabila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihanya. Sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai.
6. Mengisi waktu luang diserahkan kepada kebijaksanaan remaja. Remaja selain membutuhkan materi, juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Oleh karena itu. Waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan dapat berupa melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, catur dan lain sebagainya. Selain itu, dapat pula berupa tukar pikiran berbicara dari hati ke hati, misalnya makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Kegiatan keluarha ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
7. Remaja hendaknya pandai memilih lingkungan pergaulan yang baik serta orang tua memberi arahan arahan di komunitas nama remaja harus bergaul.
8. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman-teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Sedangkan tindakan penangguulangan masalah kenakalan menurut http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCgQFjAB&url=http%3A%2F%2F10310255.blogspot.com dapat dibagi dalam : (1) Tindakan Preventif, (2) Tindakan Represif, dan (3) Tindakan Kuratif.
1. Upaya Preventif
Tindakan preventif yakni segala tindakan yang mencegah timbulnya kenakalan-kenakalan. Tindakan preventif untuk mencegah kenakalan remaja dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Usaha Pencegahan Timbulnya Kenakalan Remaja secara umum, yaitu:
a) Berusaha mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja
b) Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan
c) Usaha pembinaan remaja, yang meliputi :
(1) Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Misalnya dengan meserasikan antara aspek rasio dan aspek emosi.
(2) Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengeluaran dan ketrampilan, namun juga pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etika.
(3) Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
(4) Usaha memperbaiki keadaan lingkungan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga, maupun masyarakat di mana terjadi banyak kenakalan remaja.

b. Usaha Pencegahan Timbulnya Kenakalan Remaja Secara Khusus
Di sekolah, pendidikan mental ini khususnya dilakukan oleh guru, guru pembimbing, atau psikolog sekolah bersama para pendidik lainnya. Usaha para pendidik harus diarahkan terhadap si remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus, dan mengawasi setiap penyimpangan tingkahlaku remaja di rumah dan di sekolah.
Pemberian bimbingan terhadap para remaja dapat berupa :
a) Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
b) Penyesuaian diri: mengenal dan menerima tuntutan dan penyesuaian diri dengan tuntutan tersebut.
c) Orientasi diri: mrngarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.
Bimbingan dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :
(a) Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada si remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan si remaja dan membantu mengatasinya
(b) Pendekatan melelui kelompok dimana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut :
(1) Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.
(2) Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkahlaku baik dan merangsang hubungan sosial dengan baik.
(3) Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif
(4) Dengan melakukan permainan bersama dan bekerja dalam kelompok dipupuk solidaritas dan persekutuan dengan Pembimbing

2. Upaya Represi
Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap pelanggaran.
a. Di rumah dan dalam lingkungan keluarga, remaja harus menaati peraturan dan tata cara yang berlaku. Disamping peraturan tentu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat orang tua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelaksanaan tata tertib dan tata cara keluarga harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur. Seorang anak yang berumur 7 tahun sudah harus berada di dalam rumah sebelum maghrib. Seorang remaja mungkin saja pada waktu senja masih berada dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mengikuti aktivitas ekstrakurikuler. Sedangkan seorang remaja lanjut pada waktu senja masih dalam perjalanan menuju kursus bahasa misalnya.
b. Di sekolah dan lingkungan sekolah, maka kepala sekolah dan guru yang berwenang dalam melaksanakan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Misalnya : Dalam pelanggaran tata tertib kelas dan peraturan yang berlaku untuk pengendalian suasana pada waktu ulangan atau ujian. Akan tetapi hukuman yang berat seperti “skorsing” maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar maupun orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan tim guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara atau seterusnya tergantung dari macam pelanggran tata tertib sekolah yang telah digariskan.

3. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
Tindakan kuratif dan rehabilitasi, dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap mengubah tingkah laku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana sering ditanggulangi oleh lembaga khusus meupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.
Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rohani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.

3. SIMPULAN & SARAN

3.1 Simpulan
Kenakalan remaja adalah perilaku remaja yang bertentangan dengan norma masyarakat serta dapat menimbulkan keonaran dalam masyarakat yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Jenis-jenis kenakalan remaja antara lain tawuran, melakukan seks bebas, dan mengonsumsi obat-obatan terlarang. Faktor penyebab kenakalan remaja dikelompokan menjadi dua yaitu, faktor intern dan faktor ektern. Faktor intern terdiri dari faktor kepribadian, faktor fisik, dan faktor status dan peranannya di masyarakat. Sedangkan faktor ektern terdiri dari kondisi lingkungan keluarga, kontak sosial dari lembaga masyarakat kurang efektif, kondisi geografis atau kondisi fisik alam, faktor kesenjangan ekonomi dan disintegrasi politik, dan Revolusi. Upaya untuk mengatasi kenakalan remaja, antara lain yaitu:
1. Kegagalan menghadapi identisan peran dan lemahnya control diri bisa dicegah atau bisa diatasi dengan prinsip keteladanan.
2. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi mereka.
3. Kehidupan beragama keluarga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosila keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik

3.2 Saran
Remaja merupakan generasi bangsa. Maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh remaja bangsa tersebut. Jika moral remaja tersebut baik, maka akan baik pula kemajuan bangsa itu. Namun jika moral remaja tersebut tidak baik, maka bangsa tersebut terancam hancur.
Kita sebagai generasi bangsa sebaiknya memiliki moral yang baik dan tidak melakukan kenakalan-kenakalan remaja yang dapat merugikan bangsa kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

https://bayu96ekonomos.wordpress.com (didownload pada tanggal 31 Mei 2015, 14.00)
http://den-haryprasetyo.blogspot.com/2013/11/tawuran-antar-pelajar-masalah-dan_7044.html (didownload pada tanggal 17 Mei 2015, 10.00)
http://iwanttohappierever.blogspot.com/2014/06/contoh-makalah-tentang-kenakalan-remaja.html (didownload pada tanggal 17 Mei 2015, 10.00)
http://nopanova1.blogspot.com/p/pengertian-dan-penyebab-prilaku-seks_23.html (didownload pada tanggal 17 Mei 2015, 10.00)
https://rizbig.wordpress.com/2013/10/23/cara-mengatasi-kenakalan-remaja/ (didownload pada tanggal 17 Mei 2015, 10.00)
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCgQFjAB&url=http%3A%2F%2F10310255.blogspot.com (didownload pada tanggal 31 Mei 2015, 14.00)
http://www.tribunnews.com/nasional/2013/12/21/tahun-ini-20-pelajar-indonesia-tewas-karena-tawuran (didownload pada tanggal 17 Mei 2015, 10.00)

Identifikasi Sastra Melayu Klasik

Identifikasi Sastra Melayu Klasik

Oleh

Ina Maria*

1.1 Latar Belakang

Sastra, secara etimologis atau asal-usulnya (Kosasih, 2012:1), istilah sastra berasal dari bahasa Sansekerta, yakni susastra. Su berarti ‘bagus’ atau ‘indah’ dan Sastra berarti ‘buku’, ‘tulisan’, atau ‘huruf’. Jadi, susastra merupakan suatu tulisan-tulisan yang bagus atau tulisn-tulisan yang indah. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1230) sastra adalah (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Dalam pemilihan katanya, biasanya sastra menggunakan kata-kata kiasan yang indah. Karya sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.

Menurut Kosasih (2012:1), karya sastra terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu:

a. Puisi, merupakan karya sastra yang disajikan secara monolog.

b. Drama, merupakan karya sastra yang disajikan secara dialog.

c. Prosa, yang disajikan dalam bentuk cangkokan, yakni dialog ke dalam monolog.

Ketiga bentuk sastra ini, perlu kita pelajari. Bukan hanya teorinya saja, tetapi juga dalam menikmati dan mengapresiasikannya. Dengan mempelajari teori dari ketiga bentuk karya sastra ini, diharapkan kita bisa menikmati keindahan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya tersebut. Lebih dari itu, kita juga bisa memiliki kemampuan berkreasi atau membuat salah sau bahkan keiga dari karya tersebut, demi pelestarian dari sebuah sastra. Karena pada hakikatnya, karya sastra idak hanya untuk dibaca, melainkan juga dapat diperdengarkan ataupun dipentaskan. Dengan demikian, karya tersebut akan lebih hidup di hati masyarakat, serta dapat pula sebagai media pendidikan, karena di dalam suau karya sasra terdapat nilai-nilai yang mementingkan moral.

Untuk itu, Kosasih (2012:1) membagi fungsi-fungsi sastra menjadi lima golongan, yaitu:

a. Fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang, gembira, serta menghibur.

b. Fungsi didaktif, yaitu mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada di dalamnya.

c. Fungsi estetis, yaiu memberikan nilai-nilai keindahan.

d. Fungsi moralitas, mengandung nilai moral yang tinggi sehingga para pembaca dapa mengetahui moral yang baik dan buruk.

e. Fungsi religiusitas, mengandung ajaran agama yang dapa dijadikan eladan bagi para pembacanya.

Sastra menggunakan bahasa sebagai medianya, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang berbentuk dan bernilai keindahan. Berkaitan dengan maksud tersebut, sastra selalu bersinggungan dengan pengalaman manusia yang lebih luas daripada yang bersifat estetik saja. Sastra selalu melibatkan pikiran pada kehidupan sosial, moral, psikologi, dan agama. Berbagai segi kehidupan dapat diungkapkan dalam karya sastra. Seiring berkembangnya zaman, sastra juga mengalami perkembangan.

Berdasarkan perkembangan sejarahnya (Kosasih, 2012:4), sastra dibagi menjadi dua, yaitu kesusastraan klasik dan kesusastraan baru. Dalam pembahasan kali ini, Penulis akan membahas mengenai Identifikasi Sastra Melayu Klasik. Kesusastraan klasik (Kosasih, 2012: 4) adalah kesusasraan yang hidup dan berkembang pada masyarakat lama Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, sastra lama dirasakan menjadi karya yang telah usang, padahal di dalam sastra lama itulah bukti-bukti kesusastraan Indonesia mulai berkembang. Dalam hal ini, penulis bermaksud memperkenalkan kembali sastra lama, dimulai dari pengertian, karakteristik, hingga jenis-jenis karya yang ada di dalamnya. Dengan adanya makalah ini, penulis berharap sastra lama hidup kembali dalam sanubari kita, dan agar sastra yang telah usang ini dapat kembali kia apresiasikan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

a. Apakah definisi dari sastra lama?

b. Apa sajakah karakteristik dan jenis-jenis karya sastra lama?

c. Bagaimanakah cara mengidentifikasi karya sastra lama?

d. Apakah manfaat mengidentifikasi sastra lama?

1.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah tersebut, dapat pemakalah memiliki tujuan sebagai berikut:

a. Mengetahui definisi dari sastra lama dan sastra baru.

b. Mengetahui karakteristik dan jenis-jenis karya sastra lama.

c. Mengetahui cara mengidentifikasi karya sastra lama.

d. Mengeahui manfaat dari mengidentifikasi sastra lama.

2. PEMBAHASAN

2.1 Sastra Lama

Sastra sastra klasik aau bisa disebut juga sebagai sastra lama atau sastra tradisional (Kosasih, 2012:13) adalah karya sastra yang tercipta dan berkembang sebelum masuknya unsur-unsur modernisasi kedalam sastra itu. Sastra lama lahir dan tumbuh pada masa lampau atau pada masyarakat Indonesia lama. Sastra lama juga biasa disebut sebagai sastra klasik. Sastra lama tumbuh dan berkembang seiring dengan kondisi masyarakat pada zamannya. Sastra lama mempunyai nuansa kebudayaan yang kental dan memiliki corak yang lekat dengan nilai dan adat istiadat yang berlaku di dalam suatu daerah atau masyarakat tertentu. Dalam ukuran waktu, sastra lama (sastra Nusantara) dibatasi sebagai sastra yang berkembang sebelum tahun 1920-an, yakni rentang waktu sebelum lahirnya trend sasra Angkatan Balai Pustaka.

2.2 Karakteristik Sastra Lama

Secara umum (Kosasih, 2012:13) sastra lama memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Penyebarannya dilakukan secara lisan oral, dari mulut ke mulut. Dalam jumlah yang terbatas, ada pula karya sastra yang penyebarannya melalui tulisan. Bahan-bahan tulisan berasal dari kulit kayu, bambu, kertas padi,lonar nipah, dan sejenisnya.

b. Perkembangannya statis, perlahan-lahan serta terbatas pada kelompok ertentu.

c. Pengarang biasanya tidak diketahui (anonim). Hanya beberapa karya yang pengarangnya masih bisa dikenal. Pengarang-pengarang itu antara lain, Hamzah Fansuri, Syamsudin as. Samatrani, Nurrudin W Raniri, Abdul Rauf Singkel, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Raja Ali Haji, dan Tun Sri Lanang. Khususnya Tun Sri Lanang, terkenal dengan karangan-karangannya yang bergaya populer untuk ukuran waktu itu. Karya-karyanya antara lain, Hikayat Raja-raja Pasai, Syair Ken Tambunan, Sejah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Sri Rama, dan Hikayat Undakan Panurat.

d. Berkembangnya dlam banyak versi. Hal ini disebabkan oleh cara penyebarannya yang di sampaikan secara lisan. Misalnya, yang terjadi dalam mitos asal-usul melayu. Dalam mitos tersebut terdapat kisah tentang seorang putri yang lahir dari buih; versi lain dari rumputan bambu; dan ada yang lainnya dari lngit.

e. Ditandai dengan ungkapan-ungkapan klise (formulazired). Misalnya, dalam menggambarkan keantikan seorang putri dengan ungkapan seperti bulan empat belas. Untuk menggambarkan kemarahan seorang tokoh dinyatakan seperti ulat berbelit-belit.

f. Berfungsi kolektif, yaitu sebagai media pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.

g. Bersifat pralogis, yakni mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum.

h. Bersifat kratonsentris, yaitu cerita yang di sampaikan berkisah sekiar kerajaan, istana, dan keluarga raja.

i. Merupakan milik bersama dari kolektif tertentu.

2.3 Benuk-bentuk Karya Sastra Melayu Klasik

Bentuk-bentuk karya sastra klasik ada 9 (Kosasih, 2012:14) , yaitu:

a. Mantra

Mantra dianggap sebagai permulaan bentuk sastra klasik. Mantra adalah bentuk puisi yang berupa gubahan yang diresapi oleh kepercayaan akan dunia gaib. Irama bahasa sangatlah dipentingkan dengan maksud untuk menciptakan nuansa magis. Mantra timbul dari hasil imajinasi atas dasar kepercayaan animisme. Sewaktu panen, menangkap ikan, pada waktu berburu ataupun mengumpulkan hasil-hasil hutan, orang-orang dulu membujuk hantu-hantu yang baik dan mengusir hantu-hantu yang jahat dengan menggunakan mantra-mantra. Misalnya padawaktu berburu rusa, mereka mengucapkan mantra terlebih dahulu agar bisa menangkap buruannya itu dengan mudah. Mantranya sebagai berikut. Sirih lontar pinang lontar Terletak di atas penjuru Hantu buta, jembalang buta Aku mengangkatkan jembalang rusa. Mereka beranggapan bahwa dengan membacakan mantra tersebut harimau, ular, dan binatang buas lainnya akan lari menjauh, menghindarkan diri, dan orang itu akan selamat dari ancamannya.

b. Pantun

Umumnya pantun merupakan sajak percintaan yang sering dibacakan pada waktu perayaan pernikahan.bentuknya, terdiri dari empat baris. Kedua baris pertama disebut sampiran, yang memuat perumpamaan, ibarat, atau suatu ucapan yang tidak bermakna. Sampiran berfungsi sebagai penyelaras rima. Sementara itu, kedua baris terakhir merupakan isinya yang mungkin di dalamnya berupa nasihat, berisi kerinduan, sindiran, teka-teki, ataupun guyonan.Lengkapnya, bahwa syarat-syarat pantun adalah sebagai berikut:

• Terdiri atas empat baris.

• Tiap baris terdiri atas 9 sampai 10 suku kata.

• Dua garis pertama disebut sampiran dan du baris berikutnya mengandung maksud si pemantun. Bagian ini disebut isi pantun.

• Pantun mementingkan rima akhir dan rumus rima itu disebut dengan abjad/ababa. Maksudnya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat.

Contoh:

Sikap senohong

Gelama ikan duri

Bercakap bohong

Lama-lama mencuri

Gunung Daik timang-timangan

Tempat kera berulang alik

Budi yang baik kenang-kenangan

Budi yang jahat buang sekali

c. Pantun Berkait (seloka)

Pantun berkait, pantun berntai, atau seloka adalah pantun yang terdiri atas beberapa bait. Pantun ini terdiri atas beberapa bait yang sambung-menyambung. Hubungannya sebagai berikut; baris kedua dan keeempat pada bait pertama dipakai kembali pada baris peris pertama dan ketiga pada bait kedua dan ketiga, ketiga dan keempat, dan seterusnya.

Contoh:

Sarang garuda dipohon beringin

Buah kemuning di dalam puan

Sepucuk surat dilayangkan angin

Putih kuning sambutlah Tuan

Buah kemuning di dalam puan

Dibawa dari Indragiri

Putih kuning sambutlah Tuan

Sambutlah dengan si tangan kiri

Dibawa dari Indragiri

Kabu-kabu dalam perahu.

Sambutlah dengan si angan kiri

Seorang makhluk janganlah tahu.

d. Talibun

Talibun adalah pantun yang susunannya terdiri atas enam, delapan, atau sepuluh baris. Pembagian baitnya sama dengan pantun biasa, yakni terdiri atas sampiran dan isi. Jika talibun itu enam baris, maka tiga baris pertama merupakan sampiran dan tiga baris berikutnya merupakan isi.

Contoh:

Kalau anak pergi ke pekan

Yu beli belanak beli

Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan

Ibu cari sanak pun cari

Induk semang cari dahulu

e. Pantun Kilat

Pantun kilat atau karmina ialah pantun yang terdiri atas dua baris: baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua isinya.

Contoh:

Gendang gendut, tali kecapi

Kenyang perut, senanglah hati

Pinggan tak retak, nasi tak ingin

Tuan tak hendak, kami tak ingin

Sudah gaharu, cendana pula

Sudah tahu, bertanya pula

f. Gurindam

Gurindam sering juga disebut sajak peribahasa. Gurindam terdiri dari dua baris yang berirama. Baris pertama umumnya berupa sebab (huku, pendirian), sedangkan baris kedua merupakan jawaban atau dugaan. Gurindam yang terkenal ialah kumpulan gurindam karangan pujangga Melayu Klasik Raja Ali Haji dengan namanya, Gurindam Dua Belas. Gurindam tersebut terdiri atas dua belas pasal dan berisi kurang lebih 64 buah gurindam. Sebenarnya, Gurindam bukan kreasi murni rakyat Nusantara (Melayu). Puisi ini diperkirakan berasal dari India (Tamil).

Contoh:

Barang siapa meninggalkan zakat

Tiadalah artinya boleh berkat

Barang siapa berbuat fitnah

Ibarat dirinya menentang panah

Tampak pada dua contoh diatas bahwa gurindam memiliki susunan berikut:

a. Terdiri atas dua baris

b. Rumus rima akhirnya /aa/

c. Baris pertama merupakan syarat dan baris kedua berisi akiba dari yang disebutkan pada baris pertama.

d. Berisikan ajaran, budi pekerti, atau nasihat keagamaan.

g. Syair

Syair merupakan bentuk puisi klasik yang merupakan pengaruh kebudayaan Arab.

Syair memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Terdiri atas empat baris

b. Tiap baris terdiri atas 8 samapai 10 suku kata.

c. Tidak memiliki sampiran dan isi, semuanya merupakan isi

d. Berirama akhir a-a-a-a

Contoh syair:

Diriku lemah anggotaku layu

Rasakan cinta bertalu-talu

Kalau begini datangnya selalu

Tentulah kakanda berpulang dahulu

h. Peribahasa

Peribahasa adalah kalimat atau krlompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan sesuatu maksud tertentu. Dalam khazanah sastra klasik, peribahasa merupakan salah satu jenis kaarya sastra yang masih dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat sekarang. Hal ini berbeda dengan mantra, pantun, atau gurindam, yang nyaris terlupakan. Berdasarkan isinya (Kosasih,2012:18) membagi peribahasa menjadi 3 jenis, yaitu:

a. Peribahasa Nasihat

b. Peribahasa Sindiran

c. Peribahasa Pujian

i. Teka-teki Teka-teki adalah cerita pendek yang menuntut adanya jawaban atas maksud dari cerita itu. Teka-teki hampir sama dengan soal cerita. Hanya saja dalam teka-teki, peranan nalar sering kali diabaikan. Yang dipentingkan adalah kemampuan si penebak dalam memahami ari kiasan atau ibarat yang dikemukakn dalam suatu cerita. Ciri lainnya bahwa dalam suatu penyusunan teka-teki haruslah memperhaikan keindahan bahasanya. Dengan karakteristik yang eperti itulah, teka-teki bisa digolongkan ke dalam jenis sastra.

Contoh:

1) Dari kecil berbaju hijau, sudah besar baju merah. Luarnya surga, dalamnya neraka. Jawabannya: cabai

2) Hitam legam seperti hntu. Tapi, putih hatinya. Kecil berbaju merah, besar berbaju hijau. Apabila hendak mati berbaju merah. Jawaabannya: manggis

3) Dahulu parang, sekarang besi. Artinya: dahulu sayang, sekarang benci.

4) Gendang gendut, tali kecapi. Artinya: kenyang perut, senanglah hati.

5) Pinggan tak reak, nasi tak dingin. Artinya: engkau ak hendak, kami ak ingin.

Karya sastra Melayu Klasik (Kosasih, 2012:21) sebenarnya merupakan bagian dari cerita rakyat, yakni cerita yang berkembang di daerah melayu. Berbeda dengan cerita rakyat lainnya, cerita rakyat Mleayu dianggap sebagai cikal bakal bagi sastra Indonesia modern. Untuk mengidentifikasikannya, beliau membagi jenis-jenis sastra Melayu Klasik sebagai berikut:

1) Cerita Rakyat, seperti Hikayat Si Miskin dan Hikayat Malin Dewa

2) Epos dari India, seperi Hikyat Sri Rama

3) Dongeng-dongeng dari Jawa, seperti Hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Panji Semirang

4) Cerita-cerita Islam, seperti Hikayat Nabi Bercukur dan Hikayat Raja Khaibar

5) Sejarah dan biografi, misalnya Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, dan Hikayat Abdullah

6) Hikayat berbingkai, misalnya Hikayat Bakhtiar dan Hikayat Maharaja Ali.

2.4 Mengidentifikasi Sastra Melayu Klasik

Karya sastra Melayu klasik yang berbentuk prosa, juga dibentuk oleh ema, alur, latar, penokohan, dan amanat (Kosasih, 2012:23). Unsur-unsur itu memiliki warna yang berbedaapabila dibandingkan prosa-prosa lainnya, seperti dalam cerpen ataupun novel. Secara umum unsur-unsurnya itu statis dan kaku. Namun, unsur-unsur itu memiliki bentuk yang hampir seragam di antara satu dengan yang lainnya. Biasanya, unsur-unsur tersebut dapat berupa:

a. Tema tentang kehidupan para raja dan bangsawan dengan berbagai persoalannya, misalnya entang pengkhianaan, kesetiaan, ataupun perebuan kekuasaan.

b. Alur berkembang dengan pola maju dan berakhir dengan bahagia.

c. Latar terjadi di lingkungan kerajaan.

d. Penokohannya adalah kalangan istana, raja, permaisuri, dan para petinggi kerajaan lainnya dengan watak yang bersifat “hiam-putih”.

e. Amanat pada umumnya berupa penyampaian pesan bahwa keburukan akan bisa dikalahkan oleh kebaikan. Karakeristik yng paling mudah dikenali dari karya sastra Melayu Klasik adlah bahasanya yang menggunakan bahasa Melayu lama, oleh karena itu, banyak kata di dalamnya yang idak kita pahami. Namun, sebagai Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, kita harus dapat menanggulangi hal tersebut, misalnya dengan menulis ringkasan mengenai cerita tersebut.

Salah satu cara unuk menghidupkan ataupun mengenalkan kembali ceria-cerita klasik itu adalah dengan menuliskannya kembali secara lebih ringkas dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami. Untuk membuat ringkasan mengenai karya tersebut (Kosasih, 2012:25) membuat empat langkah mudah yang bisa kita lakukan, yaitu: 1) Membaca karya itu secara keseluruhan 2) Mengartikan kata-kata sulit yang kamu jumpai 3) Mencatat pokok-pokok erita yang ada pada setiap paragraf atau bagian-bagiannya. 4) Menceritakan kembali karya itu dengan menggunakan kaa-kata sendiri berdasarkan catatan yang tersedia.

Berikut salah satu contoh sederhana mengidentifikasi karya sastra, dalam hal ini penulis akan memberikan contoh dari Hikayat Hang Tuah

a. Sinopsis Hikayat Hang Tuah

Hang Tuah adalah seorang pemuda miskin. Bapaknya bernama Hang Mahmud dan ibunya Dang Merdu Wati. Mereka hanya tinggal di sebuah gubug di kampung Sungai Duyung. Bapaknya dulu pernah menjadi hulubalang istana yang handal. Sedangkan ibunya juga merupakan keturunan dayang istana

Banyak penduduk di Sungai Duyung mendengar kabar bahwa raja Bintan adalah raja yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya. Waktu Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya untuk pergi ke Bintan mendapatkan pekerjaan untuk hidup yang lebih baik di tanah Bintan yang makmur

Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas kepala hang Tuah. Hang Mahmud seketika terbangun dan mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wangi wangian. Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya. Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu Wati lalu langsung memandikan dan melulurkan anaknya.

Kemudian memberikan anaknya itu kain baju dan ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu Wati memberikan makan hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan Hang Tuah. Besok harinya seperti biasa, Hang Tuah membelah kayu untuk persediann. Tiba– tiba pemberontak datang ke tengah pasar, banyak orang yang mati dan luka – luka. Pemilik took meninggalkan tokonya dan melarikan diri ke kampung.

Negeri Bintan menjadi rusuh itu dan terjadi kekacauan dimana – mana. Semua orang melarikan diri ke kampung kecuali Hang tuah. Lalu pemberontak itu menuju Hang tuah sambil menghunuskan kerisnya. Ibunnya, Hang Tuah berteriak dari atas toko dan menyuruh anaknya melarikan diri. Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah dan menikamnya bertubi – tubi. Dengan sigap, Hang Tuah lalu melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang tuah lalu mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelahlah kepala orang itu dan mati.

Di lain pihak, sejak berada di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Kelima pemuda itu diceritakan selalu bersama – sama. Hang Tuah dan empat orang kawannya : Hang Jebat, Hang Kasutri, Hang Lekir, dan Hang Lekiu menuntut ilmu bersama Adiputra di Gunung Ledang. Di tempat ini, Hang Tuah telah jatuh cinta pada Melor yaitu putri asli yang tinggal di Gunung Ledang dan menjadi pembantu Adiputra.

Setelah selesai menuntut ilmu, mereka berlima kembali ke kota Malaka. Pada suatu hari, mereka berhasil menyelamatkan Dato. Bendahara dari amukan seseorang yang berbahaya. Dato Bendahara berterima kasih dan kagum dengan ketangkasan mereka dan mengajak mereka semua ke rumahnya lalu mengajak mereka untuk bertugas di istana. Kemudian Hang Tuah dan kawan– kawan sangat disayangi oleh Sultan dan akhirnya Hang Tuah mendapat gelar Laksamana. Waktu mendampingi mengiringi Sultan Malaka ke Majapahit di Pulau Jawa. Hang Tuah juga berhasil membunuh seorang pendekat Jawa bernama Taming Sari.

Dalam pertarungan itu Tarming Sari seorang pendekar yang kebal dari senjata tajam. Tapi, Hang Tuah tahu rahasia kekebalan Tarming Sari terletak pada kerisnya. Lalu Hang Tuah berhasil merampas keris dan membunuh Taming Sari. Keris itu kemudiannya dianugerahkan oleh Betara Majapahit kepada Hang Tuah. Pemilik keris ini akan menjadi kebal seperti pendekar Jawa Taming Sari.

Pada suatu hari, Hang Tuah ditugaskan ke Pahang untuk mendapatkan Tun Teja yang akan dijadikan permaisuri Sultan Malaka. Ketika Hang Tuah ke Pahang. Melor turun dari gunung Ledang mencari Hang Tuah. Tapi, Melor telah ditawan oleh Tun Ali atas hasutan Patik Karma Vijaya untuk dijadikan gundik Sultan. Atas muslihat Tun Ali juga Hang Tuah yang kembali dari Pahang akhirnya dapat berjumpa Melor. Namun Sultan melihat perbuatan Hang Tuah itu. Lalu terjadilah fitnah. Maka Sultan menghukum Melor dan Hang Tuah akan dihukum mati, karena dituduh berzina dengan Melor yang telah menjadi gundik Sultan. Tapi, kenyataannya hukuman mati tidak dilaksanakan oleh Bendahara tapi Hang Tuah disembunyikan di sebuah hutan di Hulu Melaka. Di lain pihak, Hang Jebat dilantik oleh Sultan menjadi Laksamana menggantikan Hang Tuah. Lalu keris Taming Sari telah dianugrahkan kepada Hang Jebat yang dulu adalah kawan dekat Hang Tuah. Hang Jebat menyangka Hang Tuah telah meninggal karena hukuman mati yang dijatuhkan oleh Sultan. Kemudian, Hang Jebat atau Hang Kasturi melakukan pemberontakan kepada Sultan dan mengambil alih kekuasaan istana. Tidak seorang pun yang bisa melawan Hang Jebat baik itu pendekar atau panglima yang ada di Melaka, karena Hang Jebat sudah kebal dengan bantuan keris Taming Sari.

Sultan Mahmud terpaksa melarikan diri dan berlindung di rumah Bendahara. Akhirnya, pada waktu itu baginda baru menyesal telah membunuh Hang Tuah yang tidak bersalah. Inilah saatnya Bendahara memberitahu bahwa Hang Tuah masih hidup. Hang Tuah kemudiannya telah dipanggil pulang dan ditugaskan untuk membunuh Hang Jebat. Akhirnya Hang Tuah berhasil merampas keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, setelah tujuh hari pertarungan. Lalu Hang Tuah membunuh Hang Jebat. Dalam pertarungan panjang ini, Hang Jebat menjelaskan bahwa dulu dia membela sahabatnya Hang Tuah yang telah difitnah dan dijatuhi hukuman mati oleh Sultan. Tapi di lain pihak, Hang Tuah telah membantu Sultan yang sebelum itu menjatuhkan hukuman tanpa bukti yang kuat. Lalu Hang Jebat mengacu pada hadist Abu Bakar, Siddiq R.A bahwa jika seorang Muslim bersalah maka rakyat boleh menjatuhkannya. Berdasarkan alasan tersebut makanya Hang Jebat dulu memberontak pada Sultan dan berusaha menegakkan kebenaran.

b. Identifikasi Unsur-unsur dalam Hikayat Hang Tuah

– Tema, dari sinopsis diatas, dapat disimpulkan bahwa tema dari Hikayat Hang Tuah adalah “Kepahlawanan”

– Alur, alur yang digunakan pengarang untuk menceritakan hikayat tersebut adalah alur maju. Cerita dimulai dari pengenalan tokoh Hang Tuah kemudian permunculan konflik dengan menjadikan Melor sebagai gundik, klimaks dengan jatuhan hukuman mati sampi adanya pemberontakan Hang Jebat, penyelesaian dengan perdamaian Hang Tuah dengan Hang Jebat. – Tokoh a. Hang Tuah b. Hang Mahmud c. Dang Merdu d. Sang raja Bintan e. Tumenggung f. Hang Jebat g. Dato.

– Perwatakan: a. Hang Tuah: Baik, bijak, berwibawa, dan berani. b. Hang Mahmud: Baik dan Perhatian c. Dang Merdu: Baik, perhatian, lembut d. Sang raja Bintan: Baik , sopan, mudah percaya, dan mudah dihasut. e. Tumenggung: Licik, jahat, dan penghasut f. Adiputra : bijaksana berwibawa

– Latar : a. Tempat: Sungai Duyung Bintan, Pasar, Istana, Sungai Perak, Pahang, Majapahit, Gunung Ledang. b. Suasana : Ramai, Tegang, Sepi, Senang, Romantis. c. Waktu : Pagi, Malam, siang

– Sudut Pandang, pengarang menggunakan sudu pandang orang keiga dalam penulisan hikaya tersebut, epatnya orang ketiga serba tahu. Karena di dalamnya pengrang menggunakan sebutan nama-nama tokoh, pengarang juga serba tahu, setiap ilustrasi dan adegan-adegan dijelaskan secara mendetail

– Amanat: amanat yang bisa di ambil dari hikaya ersebu adalah sebagai pemimpin kita jangan hanya mendengar keterangan dari satu pihak saja, melainkan harus dari kedua pihak yang terlibat masalah, dan jangan mudah terhasut perkataan orang lain. Tujuan perjuangan Hang Tuah adalah untuk mengagungkan raja dan kerajaan Malaka setaraf dengan kerajaan besar dunia lainnya. Dari kutipan di atas, kit ketahui kegagahan Hang Tuah menghadapi seribu prajurit Majapahit yang akhirnya dapat dikalahkan.

Nilai yang terdapat dalam hikayat tersebut adalah kesedihan berkorban untuk kepentingan raja, kerajaan, dan tanah air. Semangat juang Hang Tuah dan rasa cintanyaterhadap bangsa dan tanah air perlu diwariskan kepada generasi sekarang. Nilai-nilai inipun masih relevan dengan kehidupan masa kini. Nilai-nilai kepahlawanan, kerja keras, dan keerdasan yang juga sangat diperlukan manusia-manusia modern.

3. Simpulan dan Saran

3.1 Kesimpulan Mengidentifikasi karya sastra, khususnya sasra melayu klasik sangat bermanfaat bagi kita, juga bermanfaat bagi karya tersebut. Agar, sastra yang telah usang ini dapat dilesarikan sebagai hasil dari sejarah Kesusastraan Indonesia. Untuk membuat ringkasan mengenai karya tersebut (Kosasih, 2012:25) membuat empat langkah mudah yang bisa kita lakukan, yaitu:

a. Membaca karya itu secara keseluruhan.

b. Mengartikan kata-kata sulit yang kamu jumpai.

c. Mencatat pokok-pokok erita yang ada pada setiap paragraf atau bagian-bagiannya.

d. Menceritakan kembali karya itu dengan menggunakan kaa-kata sendiri berdasarkan catatan yang tersedia.

3.2 Saran

Dalam penyusunan makalah ini, Penulis berharap, kita bisa mengambil manfaat dari makalah ini. Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan yang harus di perhatikan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari Dosen Pembimbing dan teman-teman sekalian untuk perbaikan makalah selanjutnya.

Daftar Pustaka

Kosasih. 2012. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrma Widya.